03 October 2019, 09:55 WIB

Di Wamena, Jaminan Keamanan belum Menenangkan


FL/YH/PS/YP/N-2 | Nusantara

ANTARA/IWAN ADISAPUTRA
 ANTARA/IWAN ADISAPUTRA
Para pedagang mulai berjualan di Pasar Sinakma, Wamena, Papua, kemarin.

IMBAUAN dan jaminan keamanan dari Kapolda dan Gubernur Papua tidak membuat gelombang pengungsi berhenti. Kemarin, pesawat Hercules milik TNI mendarat di Malang, Jawa Timur, dengan membawa 100 warga.

"Dari Wamena, mereka bermalam di Biak sebelum diterbangkan ke Malang. Kami belum bisa memastikan apakah semua pengungsi ini berasal dari Jawa Timur atau ada yang dari daerah lain," ungkap Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Timur, Jonathan Judianto.

Sebelumnya, Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengaku sudah berkoordinasi dengan Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh terkait penyediaan transportasi bagi warga Jawa Timur di Wamena dan Sentani yang ingin pulang. Tiga dari lima Hercules di lanud itu sudah diberangkatkan ke Papua.

"Kami juga akan menggunakan kapal untuk menyediakan transportasi laut bagi warga Jatim yang ingin pulang," tambahnya.

Kemarin, 130 warga asal Sumatra Barat diberangkatkan dari Papua menggunakan kapal motor Ciremai. Gelombang pengungsi kedua juga akan dilepas pada 12 Oktober nanti. "Mereka juga akan menggunakan kapal. Kami belum tahu, mereka akan kembali ke Wamena atau tidak," ujar Ketua Ikatan Keluarga Minang Papua, Zulhendri Sikumbang.

Dia mengakui para pengungsi meninggalkan banyak aset dan harta benda di Papua. Banyak dari mereka yang sudah lama tinggal di Wamena, bahkan lahir di daerah itu.

Tidak banyak uang dan harta yang bisa mereka bawa saat mengungsi. Karena itu, selama berada di kapal, bekal, dan kebutuhan mereka sudah ditanggung. Mereka juga dipegangi uang tunai Rp100 ribu per orang.

Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, mengatakan seluruh perantau Minang di Wamena menyatakan akan pulang kampung. "Data terakhir ada 172 orang yang sudah berada di Jayapura dan 1.298 masih di Wamena. Perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk kepulangan perantau Minang ini sekitar Rp2,5 miliar."

Khawatir dengan nasib warganya di Wamena, Gubernur Sumatra Utara, Edy Rahmayadi, memutuskan mengirim tim untuk menangani mereka. "Tim bertugas menangani berbagai hal, dari pemberian bantuan yang dibutuhkan, pendataan warga dan kebutuhan, hingga upaya penanganan terbaik," jelas Edy.

Ia mendapat informasi bahwa ada 720 warga asal Sumatra Utara yang mengungsi dan ingin kembali ke kampung halaman. (FL/YH/PS/YP/N-2)

BERITA TERKAIT