03 October 2019, 10:50 WIB

Peran Dosen IPB University Dinilai Cukup Sentral


Media Indonesia | Megapolitan

MI/Susanto
 MI/Susanto
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

KEPALA Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo menerangkan peran dosen IPB University, Abdul Basith cukup sentral dalam merencanakan aksi anarkistis saat Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI pada Sabtu, 28 September.

"Peran dari pelaku Ir AB cukup sentral dalam mengendalikan orang-orang untuk melakukan tindakan anarkistis, baik penyerangan, perusakan, maupun pelemparan bom-bom yang sudah dipersiapkan," ujar Dedi di Markas Besar Polri, kemarin.

Bahkan menurut Dedi, tersangka Abdul Basith tak hanya melakukan perekrutan, tapi juga berperan sebagai penyandang dana.

"Yang bersangkutan juga sebagai donatur untuk mengalirkan uang ke orang yang direkrut. Contoh S didatangkan langsung dari Ambon dan dibiayai langsung oleh yang bersangkutan untuk datang ke Jakarta," papar Dedi.

Dedi menjelaskan bahwa S alias Laode memiliki kemampuan merakit bom dan membuat molotov. Ia berperan untuk merekrut dan mengawasi empat orang tersangka lainnya, yakni JAF, AL, SAM, dan NAD untuk merakit bom.

Saat ini, pihak kepolisian masih terus mendalami motif yang direncanakan Abdul Basith. Hasil pemeriksaan sementara yang didapatkan pihak kepolisian ialah membuat kerusuhan, sehingga bisa mengganggu proses pelantikan anggota MPR/DPR sampai presiden dan wakil presiden.

"Dari setiap demo, buntutnya kerusuhan. Lalu impact turunannya mengganggu proses kegiatan pelantikan MPR/DPR kemarin. Kalau tidak dilakukan penegakan hukum, demo lagi, dia akan ulangi perbuatannya, provokasi dengan lempar bom. Jatuh korban dari aparat dan pendemo, akan berkembang lagi, bisa juga mengganggu proses kegiatan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih," jelas Dedi.

Dari hasil penangkapan, polisi menyita barang bukti berupa bom molotov yang berisi paku dan fatal efeknya.

Selain menyita bom molotov, polisi juga menyita bom lainnya. Sebagian bom tersebut serupa dengan bom ikan yang memiliki daya ledak lebih dahsyat.

"Kalau sasarannya properti dan fasilitas publik, bisa rusak. Tapi kadar di dalamnya tidak disampaikan. Nanti bisa ditiru. Cukup variatif kadar di dalamnya. Bukan hanya bensin, tapi lebih dasyat," papar Dedi.

Pihak kepolisian menyebutkan bahwa proses penyelidikan memang masih belum final dan masih terus dilakukan Polda Metro Jaya. (*/J-2)

BERITA TERKAIT