03 October 2019, 10:00 WIB

Warga Terserang ISPA, Layanan Kesehatan Siaga 24 Jam di Riau


Ferdian Ananda Majni | Nusantara

ANTARA/FB Anggoro
 ANTARA/FB Anggoro
Seorang anak yang menderita sesak nafas akibat asap karhutla tertidur di pelukan ayahnya di RSIA Eria Bunda, Kota Pekanbaru, Riau

KEPALA Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pelelawan, Riau, Hadi Penandio, mengatakan kabut asap melanda Riau berdampak terhadap kesehatan masyarakat yang dominan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Oleh karena itu, pihaknya masih membuka layanan kesehatan 24 jam di Kabupaten Pelalawan, Riau.

"Kalau korban paling parah hanya ISPA saja untuk masyarakat," kata Hadi di Desa Kiyap Jaya, Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (3/10).

Dia menambahkan layanan kesehatan melalui posko dan Puskesmas dibuka untuk menangani masyarakat yang terdampak asap.

"Jadi mereka ada keluhan, mendatangi posko kesehatan, puskesmas, dan fasilitas pembantu di desa, diberikan pelayanan kesehatan, obat dan pemeriksaan lainnya," sebutnya.

Baca juga: Polres Siak Periksa Intensif Tersangka Karhutla

Meski demikian, kini, masyarakat Pelelawan yang menderita ISPA sebagian besar telah menjalani pengobatan rawat jalan.

"Sebagian besar laporan yang saya terima layanannya rawat jalan. Alhamdullilah tidak ada yang dirawat (inap)," lanjutnya.

Begitu juga ia memastikan, tim satgas yang berjibaku di lapangan tidak ada yang mengalami ISPA. Sebab, mereka melakukan tugas sesuai SOP.

"Kalau untuk tim kita di lapangan untuk hari ini karena kita kerja samanya baik, SOP kita jalankan, alhamdulillah tidak ada korban dari tim di lapangan sampai hari ini," paparnya.

Sebelumnya, terdapat ribuan penderita ISPA di Kabupaten Pelalawan. Namun, angka itu terus berkurang seiring dengan hilang titip api dan Karthula di sejumlah wilayah di Riau.

"Belum terpantau, data dari Dinkes ada tetapi saya tidak bawa hari ini. Itu cukup banyak tetapi tidak berlarut setelah ada penanganan dari Dinkes maka secara langsung mereka sudah bisa pulang," tegasnya.

Sejak terjadinya Karhutla, pihaknya bekerja sama dengan pengusaha setempat dan stakeholder lainnya telah mendistribusikan sebanyak 300 ribu masker untuk warga Pelelawan.

Kata Hadi, dampak asap juga ditimbulkan setelah dari karhutla di wilayah provinsi lain yang masih ada titik api.

"Saya belum dapat laporan update terakhir, tetapi yang jelas upaya itu tetap dilakukan. Buktinya sampai layanan 24 jam di puskesmas ada. Kerena dampak asap tidak serta-merta pada hari itu bisa saja seminggu atau 2 Minggu kemudian," pungkasnya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Riau menghentikan status darurat pencemaran udara per 30 September 2019. Keputusan itu berdasarkan rapat bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan seiring nihilnya titik api.

"Status yang berlangsung selama sepekan tidak diperpanjang, seiring kualitas udara sudah kembali membaik," kata Plt Sekretaris Daerah Provinsi Riau Ahmadsyah Harrofie lewat keterangan resminya, Selasa (1/10).

Berdasarkan hasil laporan indeks standar pencemaran udara atau ISPU dalam tiga hari terakhir di wilayah Pekanbaru, Siak, Kampar, Dumai, Rokan Hilir, dan Bengkalis, menunjukkan kualitas udara daerah itu di level Baik hingga Sedang.

"Dari data hotspot 30 September 2019, dengan level confidence di atas 70% hasilnya nihil atau tidak ada titik api. Karena itu mulai 1 Oktober 2019 semua Posko Rumah Singgah atau Posko Evakuasi Korban Asap ditutup," sebutnya

Sebelumnya, Pemprov Riau pada 23 September, menetapkan status daerahnya sebagai wilayah darurat pencemaran udara. Dengan keputusan itu, Pemprov telah menyiapkan sejumlah posko pengobatan bagi korban kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (OL-2)

BERITA TERKAIT