03 October 2019, 04:20 WIB

Luncurkan ORI016 Pemerintah Bidik Rp9 T


Ihfa Firdausya | Ekonomi

Foto: Humas Kemenkeu
 Foto: Humas Kemenkeu
DIREKTORAT Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meluncurkan  Obligasi Negara Ritel Seri ORI016

DIREKTORAT Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meluncurkan dan menerbitkan Obligasi Negara Ritel Seri ORI016 dengan target indikatif Rp9 triliun. ORI ini ditawarkan pada individu atau perorangan warga negara Indonesia (WNI) melalui mitra distribusi di pasar perdana dengan tingkat kupon tetap sebesar 6,8%.

"ORI16 ini merupakan seri pertama ORI yang diterbitkan secara online. Targetnya Rp9 triliun untuk penerbitannya. Ini tradable (bisa diperdagangkan), lebih likuid, jadi targetnya besar," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Luky Alfirman, saat menghadiri peluncuran ORI016 di Jakarta, kemarin

Ia menambahkan tingkat bunga yang ditawarkan ORI016 itu sebesar 6,8% sampai dengan jatuh tempo pada 15 Oktober 2022. Kupon sebesar itu juga telah menyesuaikan besaran BI rate saat ini di level 5,25%.

"BI rate sudah turun 75 basis poin dalam tiga bulan terakhir ini, menggambarkan cost of fund makin turun. Makanya tingkat kupon menyesuaikan juga," katanya.

Ia menambahkan penerbitan ORI itu terutama untuk membiayai APBN yang fokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Proses pemesanan pembelian, lanjut dia, dapat dilakukan melalui empat tahap, yaitu registrasi, pemesanan, pembayaran, dan konfirmasi.

"Proses registrasi dapat dilakukan kapan saja, sedangkan tiga proses selanjutnya dapat dilakukan selama periode pemesanan, yaitu pada 2-24 Oktober 2019," katanya.

ORI016 dinilai sangat menguntungkan karena dapat diperdagangkan di pasar sekunder dan berpotensi memperoleh capital gain. Para investor bisa memesan ORI016 dengan minimal pembelian Rp1 juta dan maksimal Rp3 miliar.

Menurut Luky, ORI bukan semata instrumen investasi, melainkan juga merupakan bentuk partisipasi masyarakat untuk membangun negeri.

Bidik milenial

Luky berharap kemudahan pembelian ORI itu dapat memicu generasi milenial untuk menempatkan dana mereka ke instrumen itu sehingga turut membantu pembiayaan negara.

"Sekarang ini milenial mendominasi, kurang lebih 52% dari pembeli SBN ritel. Kita berharap trennya akan berlanjut terus karena milenial makin sadar investasi," katanya

Harapan senada diungkapkan Direktur Surat Utang Negara (SUN) DJPPR Kemenkeu Loto Srinaita Ginting. Dia berharap penerbitan secara online ini akan menarik generasi milenial untuk membeli ORI016.

"Kita harapkan dengan melalui online saat ini ada perubahan statistik. Saat ini kita menduga dengan online, jumlah investor yang banyak ialah dari generasi milenial," tutur Loto.

Presiden Tanihub, sebuah perusahaan teknologi rintisan yang menghubungkan petani dengan pembeli korporasi, Pamitra Wineka, mengatakan telah berinvestasi dalam ORI sejak ORI001 pada 2006. Baginya ORI adalah instrumen investasi yang menarik, terutama dalam hal kemudahan likuiditas.

"Pengalaman saya mendirikan Tanihub di awal, waktu ke bank ditanya, jaminannya apa? Waktu itu saya coba menjaminkan properti, tetapi appraisal-nya lama, butuh beberapa bulan, sedangkan ORI lebih cepat karena indikasi nilai pasarnya sudah jelas dan likuiditasnya cepat," jelas Pamitra.

Masyarakat yang berminat untuk berinvestasi di ORI016 sudah dapat melakukan registrasi dengan cara menghubungi 23 mitra distribusi yang telah ditetapkan. (Ant/E-3)

BERITA TERKAIT