02 October 2019, 19:43 WIB

Ada Mal untuk Orang Sehat di Puskesmas Ini


Indriyani Astuti | Humaniora

ANTARA FOTO/ Budi Candra Setya
 ANTARA FOTO/ Budi Candra Setya
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (kanan) mengecek sarana dan prasarana Puskesmas.

PUSAT Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) perlahan mengubah paradigma dari hanya mengobati orang sakit ke arah promotif dan preventif pencegahan penyakit.  Kepala Puskesmas Sempu, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur, Hadi Kusairi mencoba memaksimalkan fungsi puskesmas tersebut melalui inovasi yang dinamakan Mal Orang Sehat.

"Mal kan biasanya tempat perbelanjaan. Tapi di puskesmas kami orang datang diberikan edukasi program kesehatan," tutur Hadi disela-sela acara kunjungan media ke Puskesmas Sempu pada Rabu (2/10).

Di Mal Orang Sehat, imbuh Hadi, pengantar semua pasien yang berobat di puskesmas, tidak boleh masuk ke ruangan rawat jalan. Mereka langsung diarahkan ke Mal Orang Sehat. Selain mengurangi risiko dari orang yang sakit, pengantar pasien diberikan edukasi kesehatan dan bisa melakukan pemeriksaan kesehatan seperti mengukur tekanan darah dan lain-lain.

"Pengunjung yang datang juga bisa konsultas terkait masalah kesehatan. Kalau tidak diberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan, anggaran Jaminan Kesehatan Nasional bisa jebol," tuturnya.

Sebelum ada Mal Orang Sehat, Hadi mengungkapkan kebanyakan warga atau sekitar 70% warga yang datang ke Puskesmas Sempu orang sakit, hanya 30% orang sehat datang ke puskesmas seperti calon pengantin yang ingin memeriksakan kesehatan atau vaksinasi dan ibu hamil.

Namun setelah ada Mal Orang Sehat,  terjadi sebaliknya. Data Puskesmas Sempu hingga September 2019, menunjukkan 45,3% warga datang untuk berobat dan 54,7% selebihnya warga yang sehat dan ingin melakukan konsultasi kesehatan.

Tidak hanya Mal Orang Sehat, Puskesmas ini juga memprioritaskan pelayanan bagi ibu hamil. Melalui inovasi "Area Bumil Pintar dan Suami Cerdas". Para ibu hamil dibuatkan poli khusus kesehatan ibu dan anak (KIA). Mereka tidak harus mengantri berjam-jam untuk dilayani dan memeriksakan kandungan. Ruangan KIA bagi ibu hamil juga dibuat terpisah dari pasien umum di puskesmas.

"Sebelum ada Area Ibu Hamil, mereka harus antri 2-3 jam. Belum lagi harus ketemu orang sakit di loket. Menumpuk juga antriannya di apotek. Sekarang maksimal menunggu setengah jam sudah pulang, kalau butuh konsultasi dan pemeriksaan laboratorium, tenaga kesehatan yang datang ke ruang KIA. Sambil menunggu, suami dari ibu hamil diberikan konseling," papar Hadi.

Puskesmas Sempu juga punya acara bagi suami dari para ibu hamil terutama yang masuk kategori berisiko tinggi. Hadi menuturkan setiap tiga bulan sekali, mereka diajak ngopi bersama. Para suami itu diberikan konseling seperti deteksi dini kehamilan risiko tinggi pada istri.

"Kami kawal hingga melahirkan dan masa nifas (pasca melahirkan)," terang Hadi.

Total ada 14 inovasi yang dibuat oleh Puskesmas Sempu. Beberapa inovasi berhasil mendapatkan penghargaan baik nasional maupun internasional antara lain Laskar Stop Kematian Ibu dan Anak (Sakina) yang melibatkan penjual sayur keliling untuk mendata dan melaporkan ibu hamil risiko tinggi agar mau memeriksakan kandungannya di fasilitas kesehatan.

Pada 2019, Sakina mendapatkan penghargaan di forum Open Government Partnership (OGP) Asia-Pacific Regional Meeting, yang digelar pada Senin-Selasa (5-6 November), di Seoul, Korea Selatan, sebagai "the most interested innovation".

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Widji Lestariono menuturkan sebelum ada Laskar Sakina, angka kematian tinggi di wilayah kerja Puskesmas menjadi salah satu yang tertinggi di Kabupaten Banyuwangi. Tetapi setelah ada intervensi, angka kematian ibu dan bayi di sana menjadi nihil.

Data Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menunjukkan angka kematian ibu melahirkan di wilayah itu csebanyak 103 per 100000 kelahiran hidup pada 2018. (OL-4)

BERITA TERKAIT