02 October 2019, 19:35 WIB

Aktivitas Lancar, Warga Apresiasi Pembangunan Tanggul Muara Baru


Faustinus Nua | Ekonomi

 MI/Susanto
  MI/Susanto
Anak-anak bermain air di jembatan apung kawasan tanggul Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (1/9).

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menyelesaikan pembangunan tanggul sepanjang 4,5 km pada 2018. Yaitu 2,3 km di Muara Baru dan 2,2 km di Kalibaru, Jakarta Utara. Pembangunan tanggung tersebut bertujuan mencegah banjir rob (laut pasang) yang sering terjadi di pesisir Jakarta, khususnya di Muara Baru.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR, kawasan pesisir Jakarta terus mengalami penurunan permukaan tanah hingga 11-12 cm per tahun. Hal ini mengakibatkan Utara Jakarta ini kerap direndam banjir rob.

Hal ini diperparah dengan terjadinya kenaikan muka laut akibat perubahan iklim yang bila tidak segera ditangani dalam beberapa tahun akan terjadi 'back water'. Artinya, aliran sungai-sungai tidak bisa mengalir ke laut. Oleh karenanya pembangunan tanggul pantai Jakarta menjadi bagian penting dari program prioritas jangka pendek PTPIN.

Sejak adanya tanggul tersebut aktifitas warga Muara Baru kembali lebih normal. Emi, 42, pemilik warung yang berlokasi dekat tanggul merasa nyaman dan tidak khawatir lagi sejak adanya tanggul yang dibangun PUPR. "Terakhir itu 2017 bajir sekitar 2 m. Itu karena tanggulnya jebol. Sekarang udah bisa jualan dan enggak khawtir lagi," ungkapnya ketika ditemui di sekitar lokasi tanggul, Rabu (2/10).

Dikisahkannya, sebelum tanggul itu dibangun sering terjadi banjir rob. Setiap air laut pasang, rumah-rumah warga di sekitar pantai pasti terendam air laut meski pada saat itu sudah terdapat tanggul lama. "Dulu sering banjir karena tanggulnya kurang tinggi. Kadang ngungsi ke tempat keluarga," tambahnya.

Simang, 65, yang juga warga Muara Baru mengapresiasi proyek pemerintah tersebut. Ia mengakui sejak dibangunnya tanggul baru tersebut kegiatan ekonomi masyarakat pun lancar karena tidak ada kekhawatiran akan adanya banjir rob.

Sebelum adanya tanggul aktifitas ekonomi masyarakat terganggu apabila banjir datang. "Ke pasar harus pakai kapal, kalau malam warung juga tutup", kata dia.

Adapun pembangunan tanggul menggunakan alokasi APBN tahun jamak yakni 2015-2018. Tanggul tersebut merupakan bagian dari Fase A Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara (National Capital Integrated Coastal Development/NCICD). (OL-10)

BERITA TERKAIT