02 October 2019, 19:09 WIB

Skandal Ukraina Jadi Pertaruhan Posisi Trump


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/BRENDAN SMIALOWSKI
 AFP/BRENDAN SMIALOWSKI
Presiden AS, Donald Trump saat berbicara di Summerall Field, Joint Base Myer-Henderson Hall, Virginia.

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengecam penyelidikan pemakzulan yang mengancam posisinya. Ia bahkan menuding penyelidikan itu sebagai upaya kudeta.

Komentar Trump itu muncul setelah Menteri Luar Negeri Mike Pompeo berkeras akan mencegah atau menunda lima bekas atau staf aktif Departemen Luar Negeri bersaksi. Mereka sedianya menjadi saksi dalam penyelidikan atas tuduhan Trump menyalahgunakan kekuasaannya untuk mediskreditkan saingannya untuk Gedung Putih 2020 melalui tangan Ukraina.

"Dari yang saya pelajari setiap hari, saya sampai pada kesimpulan apa yang terjadi bukanlah pemakzulan, ini adalah kudeta," cuit Trump lewat akun Twitter-nya pada Selasa (1/10).

Trump menyebut langkah para rivalnya sebagai upaya untuk mengambil kekuasaan dan pilihan rakyat, kebebasan mereka, amandemen kedua mereka, agama, militer, tembok perbatasan, dan hak-hak yang diberikan Tuhan sebagai warga negara Amerika Serikat.

"Perburuan penyihir terhebat dalam sejarah negara kita!"

Sementara itu, Pompeo menuduh tiga ketua komite Demokrat melakukan penyelidikan pemakzulan atas upaya untuk mengintimidasi, menggertak, dan memperlakukan secara tidak panta.

Sebaliknya, elite Demokrat menuduh diplomat top AS itu menghalangi penyelidikan. Menurut laporan media setempat, wawancara dengan dua diplomat yang memiliki keterlibatan langsung dalam skandal Ukraina itu sudah dijadwalkan.

Trump sejatinya menghadapi kemungkinan menjadi presiden ketiga yang pernah dimakzulkan oleh Kongres, yang dapat mengarah pada persidangannya di Senat.

Demokrat pekan lalu memutuskan untuk membuka penyelidikan pemakzulan setelah beberapa pengaduan dan didukung oleh transkrip panggilan telepon Gedung Putih. Dari bukti-bukti itu menunjukkan Trump menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk memberinya informasi yang berguna secara politis tentang mantan wakil presiden Demokrat, Joe Biden.

Biden adalah elite Demokrat yang paling mungkin untuk menantang Trump dalam pemilihan umum AS tahun depan.

Langkah pertama dari tiga elite berpengaruh Demokrat di Dewan Perwakilan--Adam Schiff dari Komite Intelijen, Eliot Engel dari Komite Urusan Luar Negeri, dan Elijah Cummings dari Komite Pengawas--adalah menyomasi Pompeo dan pengacara Trump, Rudy Giuliani, dan memanggil kelima diplomat untuk bersaksi.

"Menlu Pompeo dilaporkan berada dalam panggilan telepon ketika Presiden menekan Ukraina untuk mencemarkan lawan politiknya," kata mereka.

Pompeo menyatakan Departemen Luar Negeri akan melawan upaya elite Demokrat. Gedung Putih, kata dia bisa membatasi apa yang dapat mereka ungkapkan dalam persaksian.

"Saya akan menggunakan segala cara yang saya miliki untuk mencegah dan mengekspos segala upaya untuk mengintimidasi para profesional yang berdedikasi yang saya banggakan," kata Pompeo.

Namun laporan lain mengatakan bahwa mantan utusan khusus Departemen Luar Negeri untuk Ukraina, Kurt Volker, akan memberikan kesaksian. Demikian juga mantan duta besar untuk Kiev, Marie Yovanovitch, akan diperiksa secara tertutup pada 11 Oktober mendatang.

Volker diminta oleh Giuliani untuk membantu menekan Zelensky, sementara Yovanovitch dipecat awal tahun ini sebagai duta besar setelah dia menolak upaya itu. (AFP/Hym/A-3)

BERITA TERKAIT