02 October 2019, 18:58 WIB

Rekayasa Cuaca tetap Dibutuhkan di Daerah Karhutla


Sri Utami | Humaniora

MI/Rudy Kurniawansyah
 MI/Rudy Kurniawansyah
Pesawat CN235 yang dipersiapkan untuk membantu teknologi modifikasi cuaca) hujan buatan mengatasi kabut asap Karhutla di Riau.

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi selama  Oktober curah hujan di seluruh wilayah Indonesia masih dalam kategori rendah hingga sedang.

Menurut Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Indra Gustari  daerah yang berpotensi hujan di antaranya Aceh dan Kalimantan.

"Perkiraan kami sampai satu bulan ke depan daerah yang berpotensi hujan itu Aceh dan Sumatra Utara, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi dan Papua. Sedangkan potensi hujan untuk daerah Lampung masih rendah di bulan Oktober ini. Bukan berarti tidak ada hujan, hanya intensitasnya masih rendah," jelas Indra dalam Diskusi Penanganan Bencana di Jakarta, Rabu (2/10).

Indra memerkirakan hujan baru akan terjadi merata di Indonesia mulai  November dengan puncak musim hujan terjadi pada Januari dan Februari 2020.

Terkait Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan di beberapa daerah di Sumatera, Peneliti Utama UPT Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Edvin Aldrian mengatakan, upaya itu masih tetap dibutuhkan, terutama untuk mengatasi keringan dan mengurangi titik panas dan kebakaran lahan.

Dia mengungkapkan, beberapa daerah karhutla yang mulai dilanda hujan sejak minggu lalu berkat rekayasa TMC adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. "Selama Oktober, operasi penyemaian garam dari udara tetap dilakukan oleh gabungan BPPT,BMKG dan TNI-AU," jelas Edvin.

Sampai saat ini, BPPT, BMKG dan personel pemerintah daerah memiliki Posko TMC di Kalbar, Kalteng, Riau, dan Sumsel. Dari total 45 armada udara yang dikerahkan BNPB dan TNI-AU, 41 di antaranya menggunakan helikopter untuk water bombing dan patroli. Sedangkan 4 pesawat CN 219 dan Casa 212-200, khusus untuk operasi rekayasa hujan TMC.

BPPT berencana memakai pesawat Hercules C-130 untuk menyemai garam NaCl dengan jumlah lebih besar ke wilayah terdampak karhutla. "Setelah awan-awan terpantau, baru di siang hingga sore harinya melakukan penyemaian menggunakan garam NaCL untuk menurunkan hujan," tukasnya. (A-2)

BERITA TERKAIT