02 October 2019, 16:45 WIB

Di Banyuwangi, Orang dengan Gangguan Jiwa Diberdayakan


Indriyani Astuti | Humaniora

MI/Indriyani Astuti
 MI/Indriyani Astuti
ODGJ sedang diajari menganyam

PUSKESMAS Gitik di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur,   membuat inovasi untuk menjangkau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Puskesmas tersebut membentuk gardu kesehatan jiwa (keswa) yang bertugas mencari ODGJ untuk diobati.

Kepala UPTD Puskesmas Gitik Didik Rusdiono menuturkan ODGJ yang masih menjalani pengobatan, namun kondisinya sudah stabil bisa diberdayakan melalui inovasi Terapi Okupasi dan Pemberdayaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (Teropong Jiwa).

Teropong jiwa dijalankan sejak 2017. Tujuannya untuk menghindari adanya pemasungan. ODGJ, terang Didik, kerap kali dipasung agar tidak mengganggu masyarakat atau membahayakan keluarga.

Setelah ada inovasi tersebut, angka pemasungan turun signifikan. Didik mengatakan sebelum 2017, kasus ODGJ di wilayah kerja Puskesmas Gitik berjumlah 54. Dari jumlah itu 7 ODGJ dipasung oleh keluarganya.

"Sekarang sudah zero (nol). Tidak ada pemasungan. Tetapi masih ada pasien ODGJ yang kambuh. Dari 54 pasien ada 37 orang kambuhan," tutur Didik di sela-sela kunjungan media ke Puskesmas Gitik, Rabu (2/10).

Baca juga: Prisia Nasution Ajak Ubah Stigma pada ODGJ

Di Puskesmas Gitik, ada pusat pelatihan keterampilan bagi pasien ODGJ yang sudah stabil. ODGJ yang sudah terampil dan mandiri dicarikan kerja dengan melibatkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan pengusaha asuh.

Ketika Media Indonesia berkunjung ke sana, ada sejumlah pasien ODGJ yang sedang membuat piring dari anyaman lidi dan membuat kerajinan bunga dari plastik.

Salah satu pasien ODGJ, Haryono, sudah mandiri meskipun masih mengonsumsi obat. Untuk menopang hidup sehari-hari, ia bertani. Saat sakit dua tahun lalu, Hartono mengaku pikirannya kosong dan pergi tidak tentu arah.

Kemudian ia bertemu dengan Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Gitik Eko Budi Cahyono. Setiap hari, ia dijemput dari rumah ke puskesmas. Selain dimonitor kondisinya dan diobati, Mulyono diajari menganyam.

Pasien lainnya, Sumartini atau biasa dipanggil Mbok Tin, 58, pasien ODGJ yang sehari-hari membuat kue kering di tempat satu pengusaha asuh UD. Aulia Royana milik Andi Ainur Rohman di dusun Kerajan, Kelurahan Lemahbangdewo, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur.

Mbok Tin mengaku sehari dibayar Rp40 ribu dari hasil membuat kue kering.(OL-5)

BERITA TERKAIT