02 October 2019, 13:35 WIB

Dua Tewas dan Ratusan Terluka dalam Aksi Unjuk Rasa di Irak


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP/Haidar Hamdani
 AFP/Haidar Hamdani
Aparat keamanan Irak berusaha mencegah demonstran yang menentang korupsi dan minimnya pelayanan publik di Baghdad, Irak, Selasa (1/10).  

PEJABAT kesehatan Irak mengungkapkan sedikitnya dua orang tewas dan lebih dari 200 orang lainnya terluka saat terlibat bentrokan dengan pasukan keamanan dalam aksi unjuk rasa di Baghdad dan provinsi-provinsi lain di Irak, Selasa (1/10) kemarin.

Kementerian Kesehatan Irak menuturkan unjuk rasa yang berlangsung di Baghdad menewaskan 1 orang dan membuat 200 orang lainnya terluka, termasuk di antaranya 160 warga sipil.

Sementara itu, seorang pejabat kesehatan di Provinsi Dhi Qar mengungkapkan, seorang pengunjuk rasa tewas dan 2 lainnya terluka dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung di provinsi selatan Irak.

Menurut sumber medis dan kepolisian setempat, sebagian besar dari korban membutuhkan perawatan akibat menghirup gas air mata dan beberapa korban lainnya akibat tertembak peluru karet.

Diperkirakan lebih dari 1.000 demonstran turun ke jalan di Baghdad, sebelum akhirnya dibubarkan oleh pasukan keamanan dengan rentetan tembakan dan gas air mata. Demonstrasi lainnya juga berlangsung di kota Nasiriyah dan Najaf, wilayah selatan Baghdad.

Dengan bendera Irak yang dililitkan di dahi atau disampirkan di pundak mereka, para pengunjuk rasa berkumpul di Alun-alun Tahrir yang monumental dengan berbagai protes. Utamanya, mereka memprotes aksi korupsi yang dilakukan oleh para pejabat politik Irak.

Menurut Transparency International, Irak menduduki peringkat ke-12 sebagai negara paling korup di dunia.

"Para pencuri itu merampok kita!" teriak demonstran.

"Masalahnya, parlemen merupakan sekelompok geng yang telah membagi-bagi segalanya di antara mereka sendiri," ujar seorang pengunjuk rasa berusia 30 tahun, Abbas Fadel.

Sementara itu, di jalan-jalan lainnya para pengunjuk rasa juga memprotes layanan publik yang buruk oleh pemerintah Irak. Di antaranya, pemadaman listrik yang kerap terjadi, kekurangan air, dan tingginya angka pengangguran.

"Tunjukkan kepada kami apa yang dapat Anda lakukan. Tunjukkan jalan beraspal, kota yang berfungsi, rekonstruksi, pekerjaan, layanan publik. Kami tidak memiliki itu semua!," tukas seorang pengunjuk rasa bernama Mustafa Khaled.

Sementara itu, pengunjuk rasa lainnya, membawa poster bergambar staf Letnan Jenderal Abdul Wahab al-Saadi, yang baru saja dipindahtugaskan dari jabatannya di Layanan Penanggulangan Terorisme Irak.

Aparat keamanan Irak telah berupaya mensterilkan Alun-alun Tahrir dari pengunjuk rasa, namun massa kembali berkumpul dan tak gentar menghadapi tembakan-tembakan, meriam air, dan gas air mata yang diarahkan pasukan keamanan.

Tembakan-tembakan dari pasukan keamanan Irak bahkan lebih nyaring terdengar, setelah banyak pengunjuk rasa menyebar ke wilayah-wilayah sekitar.

Beberapa pengunjuk rasa juga bergerak menuju Jembatan Al-Jumhuriyah yang mengarah ke Zona Hijau Baghdad, yang merupakan wilayah kantor-kantor pemerintah dan kedutaan asing dengan keamanan super ketat.

Polisi telah memasang barikade di mulut jembatan guna mencegah para pengunjuk rasa masuk ke wilayah tersebut.

Lautan massa kali ini merupakan demonstrasi terbesar melawan Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi sejak ia berkuasa pada akhir Oktober 2018. (AFP/OL-09)

BERITA TERKAIT