02 October 2019, 12:48 WIB

Para Siswa Hong Kong Memboikot Kegiatan Belajar


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

Mohd RASFAN/AFP
 Mohd RASFAN/AFP
Demonstran mengangkat tangan dengan lima jari sebagai bentuk lima tuntutan saat lakukan flash mob di Chater Garden, Hong Kong, Selasa (2/10)

SISWA sekolah menengah di Hong Kong melancarkan aksi boikot dengan bolos sekolah saat 96 pengunjuk rasa prodemokrasi diperkirakan akan dibawa ke pengadilan dengan tuduhan membuat kerusuhan.

Ratusan orang di Hong Kong, mengenakan seragam sekolah atau kaos hitam, mulai melakukan aksi protes dengan duduk di luar sekolah, Rabu (2/10).

Mereka menunjukkan simpati untuk seorang pengunjuk rasa berusia 18 tahun yang masih terbaring di rumah sakit setelah ditembak oleh polisi dalam bentrokan sengit, Selasa (1/10).

Pihak berwenang sang siswa bernama Tsang Chi-kin sudah dalam kondisi stabil.

Kota pusat keuangan dunia itu makin terhuyung-huyung akibat penembakan itu, pertama kali seorang demonstran ditembak dengan peluru tajam dalam hampir empat bulan protes. Insiden terjadi ketika Tiongkok daratan merayakan 70 tahun pemerintahan Partai Komunis di Beijing.

Kekerasan yang meningkat menggarisbawahi kemarahan publik terhadap pemerintahan Beijing dan membayangi parade militer 'Negeri Tirai Bambu'.

Bentrokan berkecamuk selama berjam-jam di berbagai daerah kota ketika kelompok pengunjuk rasa melemparkan batu dan bom bensin. Polisi merespons sebagian besar dengan gas air mata, peluru karet, dan meriam air.

Tsang ditembak selama bentrokan di distrik Tsuen Wan, setelah para pengunjuk rasa mengacungkan galah dan payung mengepung polisi dan seorang petugas menembakkan senjatanya dari jarak dekat ke dada pria 18 tahun itu.

Polisi mengatakan petugas tersebut takut akan keselamatan atau nyawanya sehingga mendorongnya untuk menembak Tsang.

Namun kelompok-kelompok protes membanta klaim polisi dan mengutuk meningkatnya penggunaan peluru tajam oleh aparat.

Di luar sekolah Tsang pada hari Senin, para siswa meneriakkan slogan-slogan dan memegang gambar-gambar insiden, diambil dari video yang diunggah di akun Facebook.

"Tidak ada perusuh, yang ada hanya tirani," teriak mereka, di samping slogan-slogan protes populer.

Seorang sekelas Tsang, Marco, mengatakan pemain berusia 18 tahun itu adalah pemain bola basket yang tekun. Menurutnya ia marah melihat hak kebebasan di Hong Kong yang bergeser.

"Jika dia melihat ada masalah atau sesuatu yang tidak adil, dia akan menghadapinya dengan berani, berbicara menentangnya, bukannya diam," kata Marco kepada AFP.

Seorang aktivis, wajahnya ditutupi oleh masker gas yang sekarang ada mana-mana yang dikenakan oleh para pemrotes, duduk di sebelah tanda yang bertuliskan "Dengan air mata darah dan keringat kita akan melangkah maju."

Kepala polisi Hong Kong, Stephen Lo, mengatakan polisi akan menyelidiki kejadian penembakan itu, tetapi membela tindakan petugasnya.

Polisi mengatakan 25 petugas terluka dalam bentrokan itu, termasuk beberapa yang menderita luka bakar kimia akibat cairan korosif yang dilemparkan ke mereka oleh para pemrotes. Cairan itu juga mengenai beberapa jurnalis.

Sebanyak 96 orang diperkirakan akan dibawa ke pengadilan pada Rabu pagi untuk menghadapi tuduhan kerusuhan sehubungan dengan protes yang diadakan bulan lalu. Mereka menghadapi hukuman sepuluh tahun penjara jika terbukti bersalah.

Tuntutan utama gerakan protes adalah penyelidikan independen terhadap tindakan polisi, amnesti bagi mereka yang ditangkap, dan hak pilih universal. (AFP/Al Jazeera/OL-09)

BERITA TERKAIT