02 October 2019, 10:28 WIB

BPPT Kembangkan Sistem Analisa Cemaran Khiral Produk Obat


Siswantini Suryandari | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Presdir Daicel Corporation, Misao Fuduba (tiga dari kiri) menyerahkan bantuan kepada Kepala BPPT Hammam Riza (kedua dari kiri), Rabu (2/10).

HINGGA kini impor bahan baku obat masih tinggi. Saat ini Indonesia masih mengimpor lebih dari 95% bahan baku obat, termasuk obat generik. Komponen aktif obat generik dibuat melalui proses sintesis kimia, yang terkadang mengandung cemaran senyawa khiral. Kepala Balai Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agung Eru Wibowo mengatakan bahwa cemaran senyawan khiral yaitu komponen aktif yang lain struktur kimianya sama namun struktur optisnya berbeda.

"Di beberapa obat, cemaran senyawa khiral memiliki efek samping yang membahayakan kesehatan. Seperti efek samping yang ditunjukkan pada obat rasa mual thalidomide. Obat ini pada era 1950 an dikonsumsi oleh ibu-ibu hamil untuk meredakan mual. Eefeknya menyebabkan deformasi anggota tubuh bayi yang dilahirkan," kata Agung Eru Wibowo dalam keterangan resmi, Rabu (2/10).

Sejak kejadian itu, banyak negara di dunia yang menerapkan regulasi terhadap kandungan senyawa khiral dalam produk obat. Di Indonesia, Badan POM belum menerapkan pengawasan terhadap kandungan cemaran khiral ini. Salah satu penyebabnya adalah analisanya tidak mudah karena memiliki sifat kimia dan fisika identik dengan senyawa aktifnya. Untuk menjamin keamanan obat di Indonesia, khususnya obat generik, BPPT mengembangkan sistem analisa cemaran khiral dalam produk obat.

Agung Eru menjelaskan sistem yang dikembangkan akan mengacu pada standar pengujian obat US Pharmacopeia yang juga banyak diacu oleh BPOM  dalam menentukan regulasi pengawasan obat.

"Agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya industri farmasi, sistem analisa ini akan menjadi salah satu layanan teknologi BPPT. Khususnya kepada industri farmasi yang terakreditasi dengan SNI ISO/IEC17025:2017," tambahnya.

Untuk itu BPPT mendapat bantuan teknis dari Daicel Corporation, sebuah perusahaan kimia Jepang yang mengembangkan teknologi analisa senyawa khiral. Bantuan teknis diberikan pada hari ini, Rabu (2/10) di Kantor BPPT Jakarta. Hadir dalam acara pemberian bantuan teknis ini Kepala BPPT Hammam Riza dan Presiden Direktur Daicel Corporation, Misao Fuduba.

Bantuan teknis yang diberikan langsung oleh Presiden Direktur Daicel Corporation, Misao Fuduba meliputi hibah alat HPLC beserta kolom analisanya, serta pelatihan analisa cemaran senyawa khiral dalam obat.

Kepala BPPT Hammam Riza dalam sambutannya mengatakan bahwa BPPT akan terus berinovasi untuk memberikan layanan teknologi nasional.

baca juga: Sekjen Kemensos Dorong UPT Aktifkan Peran Kehumasan di Daerah

"Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya BPPT dalam penguatan program flagship nasional bidang bahan baku obat periode 2020-2024. Saya berharap layanan teknologi ini dapat menjadi referensi bagi BPOM dalam menentukan kebijakan pengawasan obat di Indonesia agar keamanan obat generik lebih terjamin," harap Hammam Riza.

Hal ini sekaligus dapat mendukung program pemerintah untuk mewujudkan kemandirian bahan baku obat. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT