02 October 2019, 08:11 WIB

Trump Sebut Upaya Pemakzulan Sebagai Kudeta


Basuki Eka Purnama | Internasional

AFP/Nicholas Kamm
 AFP/Nicholas Kamm
Donald Trump

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Selasa (1/10), menyebut penyelidikan pemakzulan terhadap dirinya sebagai kudeta.

Pernyataan Trump itu dilansir setelah Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mencegah atau menunda pemanggilan lima pegawai atau mantan pegawai Departemen Luar Negeri untuk bersaksi dalam penyelidikan terkait tudingan Trump menyalahgunakan jabatan saat meminta Ukraina menyelidiki calon lawannya di Pemilu AS 2020.

"Dari apa yang saya pelajari dari hari ke hari, saya menyimpulkan bahwa apa yang terjadi bukanlah pemakzulan namun KUDETA," cicit Trump.

"Upaya itu dilakukan untuk mencabut kekuatan rakyat, PILIHAN mereka, kebebasan mereka, amademen kedua mereka, agama, militer, tembok di perbatasan, dan hak warga negara Amerika Serikat," imbuhnya.

Baca juga: PM Australia Benarkan Trump Minta Bantuan Soal Mueller

Adapun Pompeo menuding tiga pemimpin komite DPR AS dari Partai Demokrat melakukan pemakzulan sebagai upaya mengintimidasi dan mengancam integritas Departemen Luar Negeri AS.

Namun, Partai Demokrat balik menuding diplomat AS berusaha menghambat penyelidikan mereka.

Trump terancam menjadi presiden ketiga AS yang dimakzulkan oleh Kongres. Jika benar dimakzulkan, Trump akan diadili oleh Senat.

Partai Demokrat, pekan lalu, memutuskan melakukan upaya pemakzulan setelah seorang whistleblower yang didukung transkrip percakapan telepon dari Gedung Putih, menunjukkan Trump mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk memberikan informasi berharga mengenai mantan Wakil Presiden AS Joe Biden.

Biden merupakan calon terkuat dari Partai Demokrat untuk menghadapo Trump di Pilpres AS 2020. (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT