02 October 2019, 05:40 WIB

Kerja Lebih Keras para Disabilitas


MI | Nusantara

MI/Bagus Suryo
 MI/Bagus Suryo
Edi Supriyanto

HARI masih pagi, saat Edi Supriyanto, 42, dan Mariani, 41, bergegas menuju Sanggar Batik Seng. Pasangan suami- istri penyandang disabilitas itu setiap hari bergelut dengan kain batik.

Keduanya mengendarai motor yang dimodifikasi khusus dari rumah mereka di Desa Cepokomulyo ke Desa Sengguruh. Kedua desa itu masih di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Dua tahun lalu, pengelola sanggar harus mengantar kain bermotif ke rumah para penyandang disabilitas. Kini, kain diambil sendiri atau dikerjakan di sanggar.

Selain Edi dan Mariani, pembatik disabilitas lain di sanggar itu ialah Luluk, warga Desa Kesamben, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Di sanggar dengan bangunan terbuat dari bambu berukuran 40 meter persegi itu, para pembatik menghasilkan motif kain, baju, dan suvenir. Sanggar ini sudah dilengkapi instalasi pengolahan air limbah sehingga ramah lingkungan.

Sanggar Batik Seng bernaung di bawah Yayasan Wahana Saujana Cita Desa Sengguruh. Pembina sanggar, Wahyudi Siswanto, mengungkapkan sejak 2 tahun terakhir sanggar sudah membina 35 penyandang disabilitas.

“Kami melibatkan pembatik tesertifikasi dan asesor. Tahun ini sanggar akan melatih 20 penyandang disabilitas lagi,” tuturnya.

Di sanggar, Luluk dan Mariani berperan mencanting kain. “Dalam sehari saya mencanting dapat tiga kain. Penghasilan mengerjakan motif tulip dan topeng malangan upahnya paling besar, mencapai Rp100 ribu,” kata Luluk.

Sementara itu, para perempuan lain bekerja di pelataran sanggar melakukan pewarnaan dan menjemur kain.  Dengan modal awal Rp20 juta, saat ini sanggar mampu memproduksi 100 batik tulis per bulan.
Edi bertugas dalam proses jumput. “Dalam sehari, saya bisa menjumput 4-5 potong kain. Upahnya Rp20 ribu per potong,” ujarnya.

Membatik, menurut Edi, mengasyikkan karena melatih kesabaran dan kejujuran. Dia punya pekerjaan lain di rumah, yakni tukang servis barang-barang elektronik, juga membantu bengkel motor yang berada tidak jauh dari rumahnya. Dari semua kerja kerasnya itu, Edi bisa mengantongi penghasilan Rp2 juta-Rp3 juta per bulan.

Kiprah Sanggar Batik Seng dan kemandirian para pembatik disabilitasnya membuat PT Pembangkitan Jawa Bali Unit Pembangkitan Brantas tertarik. Sejak setahun lalu, perusahaan itu ikut membina mereka.

“Kami mendorong pembatik bisa mandiri. Program terbaru yang tengah kita kembangkan ialah membangun kampung budaya di Kepanjen,” ungkap Assistant Officer Humas & CSR PT PJB UP Brantas, Citra Putri Sakinna. (Bagus Suryo/N-2)

BERITA TERKAIT