02 October 2019, 01:25 WIB

Happy Salma Jadikan Batik Bagian Kesehariannya


Atikah Ismah Wahyu | Hiburan

MI/Ramdani
 MI/Ramdani
Aktris Happy Salma

AKTRIS Happy Salma, dikenal kerap tampil dalam balutan busana batik. Istri Tjokorda Bagus Dwi Santana Kertayasa ini mengaku, batik kini telah menjadi identitas dan bagian dari kehidupan sehari-harinya. Hal ini semakin terasa setelah dia menikah dan menetap di Bali.

"Hampir tiap hari pakai kain. Kadang walaupun pakai baju biasa ya pakai selendang batik, jadi memang seolah kayak bukan penggemar tapi memang sudah jadi keseharian gitu," ujar Happy kepada Media Indonesia, kemarin.

Penggemar batik Mega Mendung ini mengaku mengenakan batik karena senang dan menghargai proses pembuatannya. Dia menilai, batik dan karya lain yang dibuat dengan tangan memiliki keunikan dan energi tersendiri yang membuat karya itu terasa hidup.

"Saya sangat menghargai karya buatan tangan. Waktu saya melahirkan bayi saya yang pertama, saya bungkus pakai batik peninggalan dari ibu saya," tutur pemenang Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2011 tersebut.

Happy memandang, sebagai identitas masyarakat Indonesia, batik semestinya tidak hanya dirayakan setiap tahun, tetapi setiap hari.

Hari Batik Nasional dirayakan untuk memperingati penetapan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

Namun dia mengaku senang dengan adanya perayaan Hari Batik Nasional karena mampu mengingatkan masyarakat akan keberadaan batik.

"Senang banget sih dengan adanya begitu orang yang jarang pakai jadi diingatkan lagi," ujar perempuan kelahiran 4 Januari 1980 ini.


Pejuang budaya

Dengan sering menggunakan batik, imbuh Happy, tanpa disadari kita telah ikut menjadi pejuang kebudayaan. Selain itu, dengan menjadikan batik sebagai bagian dari kehidupan kita sehari-hari maka tidak akan ada pihak manapun yang dapat mengklaim batik sebagai budayanya.

"Batik itu bukan peninggalan atau harus dilestarikan, kalau dilestarikan berarti mau punah ya. Itu harus kita gunakan jadi bagian dari kehidupan kita, karena kalau kita gunakan berarti kita meneruskan dan menjadi bagian dari kebudayaan tanpa kita sadari," lanjut permeran ibunda Milea dalam film Dilan 1990 dan Dilan 1991 itu.

Saat ditanya terkait kondisi batik di Indonesia saat ini, Happy menilai bahwa kini batik Tanah Air sudah mulai dihidupkan kembali dengan dibuatnya kebijakan di sejumlah perusahaan yang mewajibkan karyawannya memakai batik di hari tertentu.

Selain itu, pemilik brand perhiasan Tulola ini berharap masyarakat saat ini tidak hanya gemar membeli barang bermerk dengan harga tinggi, tapi juga mau membeli batik tulis dengan harga serupa.

"Kita kadang-kadang mau beli brand yang mahal tapi kadang kalau kita beli batik tulis penginnya nawar, penginnya harga murah, padahal itu skill-nya juga yang wajib kita hargai prosesnya. Orang bikinnya sampai berbulan-bulan ada orang zaman dulu bahkan dipuasain saking pengennya konsentrasi ketika membuat itu," bebernya.

Lantas, apa pesan Happy kepada pembaca setia Media Indonesia di Hari Batik Nasional ini? "Siapapun yang pakai batik pasti cantik deh," tutupnya. (H-3)

 

 

 

 

BERITA TERKAIT