01 October 2019, 23:00 WIB

Mitos Susu, antara Obesitas dan Intoleransi


MI | Humaniora

Ilustrasi
 Ilustrasi
Mitos Susu, antara Obesitas dan Intoleransi

MENGONSUMSI susu secara rutin memberikan banyak manfaat bagi seseorang. Selain memelihara kesehatan tulang dan gigi, minum susu menjaga imunitas atau daya tahan tubuh.

Sayangnya, ada anggapan yang membuat orang enggan minum susu. Salah satunya bahwa minum susu dapat menyebabkan kegemukan atau obesitas. Pembawa acara program kesehatan sekaligus dokter spesialis kecantikan, dr Haekal Anshari, menampik hal tersebut. Ia menegaskan anggapan ‘susu menyebabkan obesitas’ ialah mitos.

"Selama ini orang hanya tahu susu itu lemaknya tinggi sehingga takut gemuk karena minum susu. Padahal, ada penelitiannya dari International Journal of Obesity pada 2004 yang menunjukkan kandungan kalsium dan protein susu itu justru membantu menurunkan berat badan pada orang dewasa yang mengalami obesitas,” terang Haekal, saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Haekal menjelaskan bahwa protein yang ada pada susu akan membuat orang lebih cepat kenyang sehingga seseorang akan terhindar dari makan berlebihan. Satu gelas susu hanya mengandung 146 kalori atau sama dengan 10% kebutuhan kalori harian.

Maka dari itu, tegas Haekal, penyebab obesitas sebenarnya bukanlah susu, melainkan asupan makan yang berlebih, termasuk pola hidup yang tidak aktif. “Kebanyakan main gim, duduk, tidak berolahraga. Ini yang menjadi penyebab dari gemuk atau obesitas,” tegasnya.

Haekal tidak menampik ada faktor lain yang menjadi penyebab orang dewasa tidak mengonsumsi susu, salah satunya intoleransi laktosa ketika seseorang tidak dapat menghasilkan enzim laktase. Enzim ini berfungsi menyerap laktosa atau kandungan gula yang ada di dalam susu. Di Asia, jumlah orang yang intoleran laktosa mencapai 90% dari total populasi.

Ketika tubuh seseorang tidak dapat menghasilkan enzim laktase, tubuh tidak akan dapat memecah dua kandungan dalam susu, yaitu glukosa dan galaktosa, yang nantinya akan diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk dimanfaatkan sebagai energi.

Kandungan itu terbuang begitu saja lewat usus besar dan hanya dipecah bakteri sehingga memunculkan gejala, seperti kram, kembung, sakit perut, mual, dan diare.

“Gejala seperti itu biasanya muncul 20-30 menit setelah minum susu atau produk olahannya. Adapun tingkat keparahannya tergantung dari laktosa atau jumlah susu yang diminum,” jelas Haedar.

Sampai saat ini, belum ada pengobatan untuk mengatasi intoleransi laktosa. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan ialah dengan cara menghindari konsumsi produk susu maupun olahannya.

Kabar baiknya, seseorang yang tidak bisa minum susu dapat ­mengonsumsi yoghurt. Yoghurt pada dasarnya merupakan produk susu yang proteinnya difermentasi dan laktosanya dipecah bakteri baik.

Manfaat yoghurt juga tidak kalah bagus untuk menjaga kesehatan dan pencernaan. Menurut Haekal, kandungan pada susu dan yoghurt kurang lebih sama, hanya yoghurt tidak mengandung vitamin C yang hilang saat melewati proses fermentasi. (*/H-3)

BERITA TERKAIT