02 October 2019, 07:15 WIB

1 Dekade Hari Batik, Desainer Buat Produksi Batik Ekologis


Fetry Wuryasti | Weekend

MI/ Adam Dwi
 MI/ Adam Dwi
Peragaan busana batik di Galeries Lafayette, Kamis (26/9).

SEPULUH tahun sudah batik menyandang status Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh Unesco. Merayakan itu pemerintah juga menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Selama 1 dekade ini pula berbagai cara pelestarian batik maupun cara untuk membuat batik terus mengikuti selera pasar dilakukan industri dan desainer-desainer batik. Tidak hanya soal desain motif dan potongan busana, ada pula inovasi teknik pembuatan batik yang dilakukan oleh pengrajin.

Dialah pengrajin batik sekaligus Pemilik Warna Alam Bekasi (Warlamsi) Heri Susanto. Ia memanfaatkan barang-barang bekas untuk dijadikan cetakan batik cap.

"Ide ini muncul saat bingung mencari modal membuat batik cap. Sebab harga untuk cetakan batik cap sebenarnya terbuat dari tembaga dan harganya mulai dari Rp 500 ribu- Rp 1 juta," tutur Heri di acara Sustainable Batik Day di Galeries Lafayette, Jakarta, Kamis (26/9).

Ia kemudian memanfaatkan kayu dan kardus bekas dengan dibentuk mengikuti motif-motif batik kontemporer, seperti spiral, kotak-kotak, dan bentuk lainnya yang umumnya ada di cetakan batik cap. Untuk pewarnaan, ia menggunakan bahan daun tunjung dan juga kapur untuk membuat fiksasi warna yang lebih muda.

Inovasi yang dibuat Heri kemudian menarik perhatian desainer Helen Dewi Kirana, pemilik brand NES. Ia kemudian mensosialisasikan cetakan batik cap yang lebih ramah lingkungan itu lewat program Batik Baik. Material bekas untuk membuat cetakan motif batik pun semakin banyak, termasuk triplek, lilitan tali, sumpit, potongan dus air mineral, potongan gulungan kertas koran, karung goni, hingga stik es krim.

Helen juga telah lama mengupayakan konsep ramah lingkungan pada bisnisnya. Kain-kain bekas tidak langsung dibuang, melainkan dikreasikan menjadi beragam aksesoris.(M-1)

BERITA TERKAIT