01 October 2019, 12:30 WIB

Erdogan Sebut Pembunuhan Khashoggi Ancaman Bagi Dunia


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP/Johannes EISELE
 AFP/Johannes EISELE
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan menuturkan pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi telah menimbulkan ancaman serius bagi tatanan internasional.

Erdogan menyebut pembunuhan yang terjadi satu tahun lalu tersebut sebagai insiden paling berpengaruh dan kontroversial di abad ini.

"Bahwa, satu tahun kemudian, masih sedikitnya masyarakat internasional yang tahu tentang apa yang terjadi (kematian Khashoggi) adalah sumber keprihatinan yang serius. Apakah semua aspek kematian wartawan Saudi akan terungkap? Itu akan menentukan dunia seperti apa yang anak-anak kita tinggali," tulis Erdogan dalam kolom opini yang diterbitkan Washington Post, Minggu (30/9).

Erdogan menduga pembunuhan yang dilakukan di kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki tersebut dilakukan agen ‘organisasi gelap’ dalam tubuh kerajaan Saudi. Ia tidak menyebut secara langsung pemerintah Arab Saudi ataupun orang-orangnya.

"Pemerintahan saya membuat perbedaan yang jelas dan terang antara para penjahat yang membunuh Khashoggi dan Raja Salman dan rakyatnya yang setia," katanya.

Baca juga: Pangeran Salman Bantah Perintahkan Pembunuhan Khashoggi

Erdogan mengatakan meski Turki selalu memandang Arab Saudi sebagai teman dan sekutu, atas kasus pembunuhan Khashoggi, tidak serta merta Ankara akan tetap diam.

Ia pun bersumpah melanjutkan upayanya mengusut kasus kematian Khashoggi. Erdogan kemudian kembali mengulangi pertanyaannya yang pernah dimuat dalam artikel serupa tahun lalu.

"Di mana sisa-sisa jenazah Khashoggi? Siapa yang menandatangani surat kematiannya? Siapa yang mengirim 15 pembunuh, termasuk ahli forensik, naik ke dua pesawat ke Istanbul?,” tanyanya.

Erdogan mengaku bertekad menyelidiki kasus kematian Khashoggi atas nama kebaikan umat manusia, agar kejahatan serupa tidak kembali terulang. Lebih lanjut ia mengatakan justru pembunuh Khashoggi menikmati impunitas dari Arab Saudi.

"Memerangi impunitas adalah cara termudah mencapai tujuan itu. Kita berutang kepada keluarga Jamal," tulis Erdogan.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara program siaran CBS "60 Minutes", Pangeran Mohammed bin Salman membantah telah memerintahkan pembunuhan tersebut, meskipun demikian ia mengaku harus memikul tanggung jawab karena merupakan pemimpin Saudi.

"Sama sekali tidak. Ini adalah kejahatan keji. Tetapi ketika sebuah kejahatan dilakukan terhadap seorang warga negara Saudi oleh para pejabat yang bekerja untuk pemerintah Saudi, sebagai seorang pemimpin saya harus bertanggung jawab. Ini adalah suatu kesalahan," ungkapnya, Minggu (29/9).

Adapun, laporan dari pakar Hak Asasi Manusia PBB yang melakukan penyelidikan independen atas kematian Khashoggi menunjukkan ada bukti yang dapat dipercaya, yang menunjukan keterlibatan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) dan upaya untuk menutup-nutupinya.

Central Intelligence Agency (CIA) AS pun melaporkan, kemungkinan besar pembunuhan Kashoggi diperintahkan oleh Pangeran Mohammed.

Namun, jaksa penuntut Arab Saudi telah membebaskan Pangeran Mohammed bin Salman.

Sebaliknya sekitar belasan orang yang terlibat dalam pembunuhan itu ditahan, dan lima orang di antaranya dijatuhi hukuman mati dalam persidangan yang dilakukan secara tertutup. (aljazeera/OL-2)

BERITA TERKAIT