01 October 2019, 09:32 WIB

Perkuat Manufaktur, Kemenperin Kawinkan IKM dan Industri Besar


Atalya Puspa | Ekonomi

MI/Dede Susiati
 MI/Dede Susiati
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih.

KEMENTERIAN Perundustrian terus melakukan upaya menjalin sinergi bisnis antara industri kecil menengah (IKM) dengan industri skala besar untuk meningkatkan daya saing sektor IKM. Karena, hal itu berperan memperkuat struktur manufaktur nasional.

“Langkah strategis yang telah kami lakukan adalah menggelar program link and match antara 100-an IKM komponen otomotif dengan belasan tier agen pemegang merek (APM) dan industri besar. Sejak tahun 2016, kami sudah laksanakan kegiatan ini sebanyak empat kali,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, dalam keterangan resmi, Senin (30/9).

Gati memaparkan, ratusan IKM komponen otomotif yang mengikuti proses link and match tersebut berasal dari sentra-sentra IKM logam di Yogyakarta, Klaten, Tegal, Purbalingga, Jabodetabek, dan Jawa Barat.

“Kegiatan link and match juga merupakan wujud nyata Kemenperin mendorong peningkatan pada kemampuan IKM komponen dalam mengisi rantai pasok industri otomotif baik di tingkat nasional hingga global,” tutur Gati.

Gati menegaskan, IKM memiliki peran penting dalam memproduksi komponen original equipment manufacturer (OEM) maupun memenuhi kebutuhan aftermarketuntuk pasar domestik dan eskpor. 

Lebih lanjut, keberadaan IKM dalam rantai pasok industri otomotif juga menjadi bagian penting dalam memacu perekonomian nasional.

“Tidak hanya mampu dalam memproduksi berbagai komponen maupun aksesoris mobil dan motor dengan standar kualitas yang telah ditetapkan APM, IKM kita juga telah membuktikan kemampuannya dalam berinovasi dan melakukan pengembangan produk komponen otomotif,” paparnya.

Saat ini, sentra produksi IKM logam di Indonesia sebagian besar tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur dengan total IKM komponen otomotif sebanyak 500 unit usaha dan menyerap tenaga kerja hingga 25 ribu orang. 

“Kami optimistis, peningkatan unit penjualan kendaraan roda empat dan sepeda motor, menjadi pendorong bagi penguatan IKM komponen otomotif dalam negeri,” ujarnya.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (GAIKINDO), penjualan kendaraan roda empat sepanjang tahun 2018 mencapai 1.151.413 unit, melewati angka penjualan pada 2017 sebanyak 1.079.886 unit.

Sedangkan, merujuk data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan sepeda motor pada tahun 2018 mencapai 6.383.111 unit, melampaui angka penjualan di tahun 2017 sebanyak 5.886.103 unit

Gati optimistis, IKM di sektor otomotif dapat naik kelas dengan terbukanya kesempatan yang diberikan oleh APM untuk menjadi mitra bisnisnya.

“Semoga kegiatan link and match dapat membawa kemajuan bagi perkembangan industri otomotif nasional, dan khususnya didapatkan kemitraan yang saling menguntungkan antara tier APM dengan IKM komponen otomotif menuju industri yang berdaya saing global,” tandasnya.

Terlebih, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri otomotif merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang sedang mendapat prioritas pengembangan oleh pemerintah.

Hal ini untuk mewujudkan industri otomotif siap mengimplementasikan industri 4.0 di Tanah Air. (OL-09)

BERITA TERKAIT