01 October 2019, 10:15 WIB

Warga Berdarah Minang Menolak Pulang


YH/LN/N-2 | Nusantara

ANTARA/Iggoy el Fitra
 ANTARA/Iggoy el Fitra
Wagub Sumatra Barat Nasrul Abit 

TEWASNYA sembilan warga asal Minang dalam kerusuh­an berdarah di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pekan lalu, membuat Pemerintah Provinsi Sumatra Barat bergegas datang ke Papua. Tujuannya, membantu rencana kepulangan warga ke kampung halaman.

Namun, tim yang dipimpin Wakil Gubernur, Nasrul Abit, mendapati fakta berbeda. “Selain warga yang memang ingin pulang ke Minang untuk sementara, ternyata banyak juga yang ingin bertahan di Wamena dan ke Jayapura untuk menenangkan diri sementara,” jelas Nasrul.

Mereka yang ingin tinggal, tambahnya, sudah menganggap Wamena ialah kampung sendiri. Ada yang juga lahir dan besar di Wamena.

Untuk melindungi mereka, Nasrul pun meminta aparat setempat meningkatkan keamanan bagi warga. “Mereka yang masih ingin tinggal di Wamena meminta kami berkoordinasi dengan Pemprov Papua dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya terkait dengan keamanan dan kedamaian.”

Keinginan warga berdarah Minang itu disambut Gubernur Papua, Lukas Enembe, yang juga menemui Nasrul Abit. “Pak Lukas ingin perantau asal Minang tetap berada di Papua. Ia berjanji akan meningkatkan kemanan dan kenyamanan bagi perantau,” papar Nasrul.

Gubernur Papua juga menyampaikan rasa duka dan belasungkawa atas banyaknya korban yang meninggal pada kerusuhan itu. “Kita semua berduka, prihatin, dan sedih,” sambungnya.

Dalam pengamatan Nasrul, kondisi Wamena sudah ter­kendali. “Aparat keamanan telah meningkatkan patroli dan pengamanan. Kami sudah minta aparat keamanan bertindak tegas untuk menjaga keamanan masyarakat. Semoga semua ini segera ber­akhir dan tidak terulang lagi di masa-masa mendatang,” tambahnya.

Kondisi pengungsi juga baik karena bantuan sudah mengalir dari banyak pihak. Pertamina, misalnya, kemarin, memberikan bantuan sembako dan peralatan tidur senilai Rp50 juta.

Kemarin, Pemprov Sulawesi Selatan juga mengutus Wakil Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dan Sekda Abdul Hayat Gani datang ke Wamena. Mereka menyaksikan proses evakuasi warga dari Wamena ke Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura. Ada 174 warga dan anak-anak warga perantau yang sudah tiba.

“Kami datang untuk menjamin keamanan warga asal Sulawesi Selatan. Pemprov Sulsel juga memastikan anak-anak korban kerusuhan bisa tetap melanjutkan pendidikan di Makassar tanpa harus memakai surat pindah,” papar Abdul Hayat.

Dari dialog yang ia lakukan dengan sejumlah warga asal Sulawesi Selatan, ada beberapa anak yang masih takut jika kembali sekolah di Wamena. “Ada trauma yang mendalam. Ini jadi tugas kita bersama untuk melakukan pemulihan.” (YH/LN/N-2)

BERITA TERKAIT