01 October 2019, 09:08 WIB

ACT Buka Crisis Center Tragedi Kemanusiaan Wamena


Denny Susanto | Nusantara

MI/Denny Susanto
 MI/Denny Susanto
 ACT membuka crisis center tragedi kemanusiaan Wamena dan menyalurkan bantuan kepada keluarga korban. 

MENYIKAPI konflik sosial yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah membuka crisis center di Kantor ACT Sulawesi Selatan. Crisis center ditujukan sebagai pusat data atas dampak konflik sosial yang terjadi di Wamena.

Direktur Komunikasi ACT Lukman Azis Kurniawan, Selasa (1/10) mengatakan, crisis center yang dibuka di Kantor ACT Sulsel akan memberikan informasi kepada publik tentang data dan situasi terkini dari Papua secara akurat. Crisis center ini berada di Alauddin Plaza Ruko SSH, Jalan Sultan Alauddin, Gunung Sari, Rappocini, Kota Makassar.
         
Seluruh lapisan masyarakat dapat mengunjungi dan mendapatkan informasi terkini tentang Wamena. Data-data pada crisis center ACT berasal dari tim yang berada di Papua saat ini.

"Crisis center ini digawangi oleh tim Masyarakat Relawan Indonesia dengan penguasaan bidang tertentu," jelasnya.

Pembaruan informasi atas dampak tragedi kemanusiaan di Wamena dibutuhkan. Crisis center di kantor ACT Makassar untuk memberikan informasi akurat kepada publik sekaligus menjadi tempat pengaduan orang hilang serta penerimaan donasi.

Saat ini, tim ACT sudah berada di Sentani dan sebagian lagi akan menuju Wamena. Tim tanggap darurat tersebut akan mengirimkan informasi terkini ke crisis center di Makassar. Tiap pagi  dan sore akan ada pembaruan informasi.

Tak hanya itu, data dari crisis center juga dapat menjadi rujukan berbagai pihak. Tiap harinya akan ada pembaruan informasi tentang pengungsi, korban, hingga eksodus yang terjadi di Papua.

"ACT juga akan memberikan santunan bagi korban konflik yang meninggal dunia. Di Makassar, kami juga telah menyiapkan pembukaan dapur umum di titik-titik kedatangan pengungsi dari Papua,"tambah Azis.

Pada Minggu (29/9), ACT menyerahkan santunan kepada korban meninggal dunia akibat konflik sosial di Wamena. Keluarga Muhammad Iswan dan keluarga Linda yang tinggal di Pesisir Selatan, Sumatra Barat mendapatkan santunan. Santuanan ini diserahterimakan oleh ACT Sumbar.  Aan Saputra dari tim Program ACT Sumbar mengatakan, ada sembilan korban meninggal dunia akibat konflik sosial di Wamena yang berasal dari Pesisir Selatan. Mereka merantau ke Papua untuk bekerja.

baca juga: Kapolda Riau Siap Bersinergi Atasi Karhutla

"Duka yang sangat mendalam bagi keluarga ketika mendapatkan kabar keluarganya menjadi salah satu korban konflik sosial," ungkap Aan. (OL-3)

BERITA TERKAIT