30 September 2019, 19:48 WIB

Kedubes RI di Bosnia dan Herzegovina Tahlilan Korban G30s/PKI


Patna Budi Utami dari Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina | Politik dan Hukum

MI/Padna Budi Utami
 MI/Padna Budi Utami
 Dubes RI untuk Bosnia dan Herzegovina, Amelia Achmad Yani

TAHLIL untuk para korban Gerakan 30 September (G 30 S/PKI)  digelar oleh putri almarhum Jenderal Achmad Yani di Sarajevo, Bosnia Herzegovina, Senin (30/9).  Amelia Achmad Yani yang kini menjabat sebagai Duta Besar (Dubes) RI di negeri itu menggelar acara tahlil di kediamannya, Wisma Indonesia.

Tahlil dihadiri oleh WNI ysng berada di Bosnia dan Herzegovina, termasuk pejabat dan staf KBRI beserta keluarga. Tahlil diawali pembacaan puisi berjudul Suara dari Keabadian oleh Amelia, dilanjutkan dilanjutkan pembacaan doa dipimpin oleh Pejabat Fungsi KBRI Sarajevo Mahendra.

Tahlil berlangsung pukul 13.00 waktu setempat atau pukul 18.00 WIB, bersamaan dengan berlangsungnya tahlil di Lubang Buaya, JakartaTimur, atau di  tempat ditemukannya jenazah para korban kekejaman PKI yang terdiri dari enam perwira tinggi dan satu perwira menengah TNI AD.

Amelia mengatakan, sejak bertugas di Bosnia dan Herzegovina  pada Januari 2016, ia menggelar tahlil sendiri. Padahal, sejak ayahnya meninggal pada 30 September 1965, acara tahlil setiap tahun selalu dilakukan bersama saundara-saudaranya di Tanah Air.  Meski demikian, ia mengaku tidak bersedih meski tahlil harus ia selenggarakan tanpa kehadiran saudara-saudaranya.

"Di Jakarta, setiap 30 September saya dan saudara-saudara saya selalu bersama-sama tahlil di Lubang Buaya. Tetapi karena saya tinggal di sini (Bosnia),  ini adalah yang keempat kali saya menggelar tahlil sendiri," kata Amelia kepada wartawan Media Indonesia, Patna Budi Utami,  seusai tahlil di Sarajevo.

Pada kesempatan itu ia mengenang kembali peristiwa pembunuhan terhadap ayahnya, Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani,  oleh anggota PKI.  Menurutnya, sebelum ayahnya didatangi oleh pasukan Tjakrabirawa, di tembak, diseret, lalu dilemparkan ke truk,  Achmad Yani sudah mendengar akan adanya beberapa gerakan.

Oleh karena itu, ujar Amelia, sebelum 30 September 1965 ayahnya mendapat pasukan  tambahan dari Batalyon Polisi Militer (PM). Namun, malam itu seluruh pasukan PM dipulangkan, sehingga yang bertugas berjaga di rumah hanya 12 prrsonel Garnisun.

Pada malam itu, kenangnya, ada dua tamu yang menghadap Achmad Yani.  Pertama,  Pangdam Brawijaya Mayjen Basuki Rahmat, yang melaporkan tentang perusakan kantor Gubernur Jawa Timur oleh Gerwani.  Namun berhasil diatasi.

Selanjutnya,  Achmad Yani juga menerima tamu yang juga ajudan Presiden Soekarno. Setelah tidak ada tamu , ujar Amelia, ayahnya masuk ke kamar untuk beristirahat. Sementara itu, ia bersama enam adiknya tidak segera tidur, melainkan mendengarkan musik sambil menunggu kepulangan kakak tertua mereka, Ruly, yang tengah pergi ke Bandung.

Menurutnya, Ruly baru tiba di rumah sekitar pukul 23.30 WIB.  Sepanjang menunggu sang kakak pulang itulah, mereka menerima telepon yang menanyakan apakah Jenderal Achmad Yani berada di rumah. Setelah dijawab bahwa ayah mereka sudah tidur, penelepon menutupnya. Telepon kemudian berdering lagi, dan penelepon melontarkan pertanyaan serupa dengan penelepon pertama.

Setelah menerima telepon kedua, delapan bersaudara itu lalu tidur. Tetapi, mereka terbangun sekitar pukul 04.00 WIB lantaran terkejut mendengan suara rentetan tembakan mirip halilintar. Disusul suara begitu banyak derap sepatu lars.

Saat ia berusaha mencari sang ayah sambil terus memanggil, saat itu pula tubuh Jenderal Achmad Yani yang telah berlumur darah diseret melewati ia dan adik-adiknya yang menjerit dan menangis. Tubuh Achmad Yani diseret di bagian kaki, dibawa keluar melalui pintu belakang rumah  lalu dilemparkan ke truk dan dibawa.

"Saat tubuh Bapak diseret, kami mengikuti dari belakang sambil terus menangis dan menjerit. Tetapi, sampai pintu belakang sejumlah anggota Tjakrabirawa menghadang kami, membentak, menyuruh kami kembali masuk ke rumah. Mereka bahkan sudah mengokang senjata, dan mengancam akan menembak kami semua jika tidak menurut," kata Amelia.

Di tengah kepanikan, ujarnya, ia berusaha menghubungi ajudan ayah mereka, Mayor Subardi, yang tinggal dekat mereka, melalui telepon. Tetapi telepon sudah tidak berfungsi.

Jenazah Achmad Yani baru diketemukan pada 3 Oktober malam di sumur kecil, bersama korban G 30 S/PKI lainnya, di Lubang Buaya, Jakarta Timur.  

"Jadi, tahlilan 30 September itu adalah untuk memperingati para pahlawan yang menjadi korban pengkhianatan oleh PKI,  dan bukan pemberontakandan. Pada 1 Oktober diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila, bahwa idiologi Pancasila tidak bisa lagi diganti oleh idiologi lain," katanya.

Ditanya tentang penghargaan genererasi muda terhadap pahlawan,  Amelia menilai mereka bahkan tidak mengenal pahlawannya. Generasi muda juga tidak mengetahui yang dilakukan oleh pahlawan nasional.

Hal itu, lanjutnya, karena pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah kurang kuat. Seharusnya, film-film dokumenter tentang pahlawan diputar secara berkala di televisi.

Selain itu, lanjutnya, sekolah-sekolah setiap pagi menjelang murid masuk kelas sebaiknya memperdengarkan lagu-lagu nasional. Lagu-lagu yang membangkitkan kecintaan kepada Tanah Air itu, kata Amelia, akan melekat di hati dan pikiran generasi muda.(OL-4)

BERITA TERKAIT