28 September 2019, 14:35 WIB

Aspergillus sp, Solusi untuk Degradasi Limbah Batik


Liliek Dharmawan | Weekend

JENIS jamur Aspergillus sp, bukanlah spesies jamur yang baru. Jamur itu menjadi salah satu jenis jamur perusak yang dahsyat bagi makanan, pakaian, kayu, dan lainnya.

Namun, daya perusak inilah yang di balik menjadi menguntungkan oleh peneliti dari Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah (Jateng), Ratna Stia Dewi. Dari penelitian yang dilakukannya bertahun-tahun, Ratna menemukan beragam jenis dan sifat dari Aspergillus sp.

“Inilah yang menggelitik saya. Aspergillus sp itu memang jamur perusak. Jamur ini dikenal sebagai jamur yang merusak makanan, kain, kayu, dan sebagainya. Di mana-mana bisa tumbuh. Saya berpikir, bagaimana kalau daya rusak Aspergillus sp tersebut dimanfaatkan untuk kegunaan yang positif. Artinya, saya ingin memanfaatkan daya rusak jamur itu,” jelas Ratna pada Rabu (25/9), kepada Media Indonesia.

Kebetulan, lanjutnya, sejak mahasiswa sudah memiliki rasa keprihatinan terhadap pencemaran yang terjadi di industri batik. Hal ini dilatari pula oleh kegemaran keluarganya pada batik.

Meski senang melihat beragam corak dan warna batik, ia prihatin dengan limbah warna di sungai. Dalam proses pembuatan batik, pencelupan warna dilakukan berkali-kali sehingga warna dari industri batik lebih kompleks jika dibandingkan dengan dari warna tekstil.

Setiap harinya satu home industry batik pasti membuang limbah. Umumnya, limbah yang dibuang tidak hanya mengandung pewarna, tetapi juga bercampur dengan lilin. Dari situlah muncul pertanyaan, apa itu limbah batik, kenapa bisa mencemari lingkungan,” tambahnya.

Saat dijenjang sarjana, Ratna mulai meneliti proses dekolorisasi warna, sedangkan saat studi master, ia mengkaji teknologi enzimatik. Penelitian soal batik terus berlanjut saat menjalani jenjang doktoral. Ia pada degradasi limbah batik dengan menggunakan Aspergillus sp.

Proses cepat

Ratna mengungkapkan, pada awalnya dirinya melakukan percobaan sederhana. Salah satu percobaannya ialah penggunaan jamur perusak baglog atau media tumbuh jamur tiram putih. Jamur yang bersama baglog langsung didedahkan begitu saja ke limbah. Ada juga jamur yang diisolasi dalam skala laboratorium.

Pada awal percobaan, telah terjadi perubahan warna dengan masa inkubasinya 2,5 hari. “Jadi, kalau ada limbah batik, diberi jamur tersebut, airnya akan bersih dalam waktu 2,5 hari. Begitu akan saya cobakan ke perajin batik, mereka bilang, kok lama sekali. Tentu saja ini menjadi tantangan supaya prosesnya lebih cepat,” kata doktor lulusan Universita Gadjah Mada Yogyakarta tersebut.

Ketika mulai studi doktoral di UGM, Ratna mulai melakukan pencarian jamur yang bisa mendegradasi limbah, khususnya limbah batik. Awalnya, dia mengambil 1.000 jenis jamur yang diisolasi dari berbagai macam lingkungan yang kemudian ia seleksi menjadi menjadi 108 jamur.

Pada seleksi lanjutan, Ratna memeroleh 40 jenis. Pada akhirnya ada 7 jamur dan 3 jamur. Jamur yang terseleksi, seluruhnya jenis Aspergillus sp.

Ratna menjelaskan tujuh jenis jamur –semuanya Aspergillus sp – dicobakan langsung ke dalam limbah batik. Tiap-tiap Aspergillus sp tersebut ternyata mampu melakukan degradasi. Namun, ada satu jamur Aspergilllus sp yang benar-benar mampu mengubah limbah batik yang berwarna biru tua menjadi bening kembali.

Persentasenya perubahan warna itu sampai 99% atau dalam kata lain air bening kembali dan menjadi baik kualitasnya. Proses dekolorisasi itu pun hanya dalam waktu 24 jam. Tak hanya itu, dia juga menguji proses kimiawinya mengapa sampai warnanya terdekolorisasi. Namun, Ratna masih merahasiakan nama spesifik jamur yang paling ampuh tersebut karena masih menunggu publikasi internasional.

Merusak ikatan benzena

Hal yang juga menarik ialah kemampuan Aspergilllus sp dalam membuka bahkan merusak ikatan benzena, yang dikenal begitu kuat. Akibat kedahsyatan itu, dalam ujian disertasi, seorang penguji dari jurusan kimia pun sampai hampir tidak percaya.

Dalam riset-riset sebelumnya, ikatan benzena itu hanya dapat terpotong, dari panjang menjadi pendek. Sementara itu, ikatan benzena yang ada di limbah batik, ketika diberi Aspergillus sp, menjadi terputus, rusak, dan tidak ada lagi ikatan benzena.

Untuk membuktikannya, Ratna sudah melakukan uji dengan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). “Alat itu digunakan untuk melihat senyawa. Ternyata benar, dalam limbah batik yang berwarna memang terdapat ikatan benzena, tetapi begitu jernih, ikatan benzena sudah tak ada lagi, dengan menyisakan CH dan OH. Jadi, senyawa benzena yang berbahaya itu tidak ada lagi. Bersih warnanya dan tidak mengandung kimia berbahaya,” tandasnya.

Ia mengungkapkan bahwa jamur Aspergilllus sp ternyata menggunakan limbah itu sebagai sumber nutirisi. Ada dua proses yang berlangsung, yakni jamur memiliki daya absorpsi atau penyarapan di dinding sel serta proses biodegradasi. Sementara itu, untuk memotong ikatan benzena, jamur itu menggunakan tiga enzim, yakni enzim lignin peroksidase, mangan peroksidase, dan lakase.

“Dengan proses itulah, ada  dekolorisasi dan biodegradasi. Bahkan hasil uji toksisitsnya menurun hingga 99%,” ujarnya.

Tentu saja, air yang bening dan tidak lagi ada ikatan benzena harus diuji lagi untuk memastikan apakah ada pengaruh baik untuk makhluk hidup atau tidak. Ratna mengujinya dengan cara menyiramkan ke tanaman monokotil dan dikotil.

Terbukti, air yang telah bening berpengaruh baik terhadap kedua tanaman atau sama dengan air biasa yang tidak tercemar, sedangkan untuk air yang masih ada limbah batik, berdampak buruk terhadap tanaman. Ratna ingin mengembangkan hasil temuannya menjadi sebuah produk yang bisa dimanfaatkan  perajin atau industri batik. (LD/M-1)

BERITA TERKAIT