30 September 2019, 09:25 WIB

Sayangi Jantung dengan Pola Hidup Sehat


Tesa Oktiana Surbakti | Humaniora

MI/Duta
 MI/Duta
Ilustrasi MI

PENYAKIT jantung merupakan penyakit tidak menular yang kejadiannya bisa dicegah dengan pola hidup sehat.

Berdasarkan penelitian, 7 dari 10 orang Indonesia tidak tahu bahwa dia membawa faktor risiko penyakit tidak menular di dirinya. Semakin cepat dideteksi dini, semakin cepat mereka mendapatkan informasi tentang pencegahan dan jika mau menerapkan di kehidupan sehari-hari semakin akan terhindar dia dari faktor risiko penyakit jantung.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Yayasan Kesehatan Jantung Dunia (WHF) menyatakan penyakit kardiovaskular atau berkaitan dengan jantung ialah penyebab kematian nomor satu di dunia. Data WHO menunjukkan lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskular setiap tahun. Kedua lembaga internasional pun menggencarkan kampanye, termasuk pada peringatan Hari Jantung Sedunia yang jatuh pada 29 September. Masyarakat diminta mewaspadai ancaman penyakit kardiovaskular yang bisa menyerang sewaktu-waktu.

"WHO menargetkan harus terjadi penurunan 30% kasus penyakit jantung pada 2030. Fokusnya di negara sedang berkembang yang memiliki sistem kesehatan promotif dan preventif belum berjalan optimal," ujar dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Antonia Anna Lukito, saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (29/9).

"Sebenarnya penyakit jantung sangat bisa dicegah. Banyak orang tidak sadar dan baru berobat ketika terserang penyakit jantung. Penting untuk mengenali dan memerangi faktor risiko lebih dini," tambah Antonia.

Di sisi lain, lanjutnya, tidak sulit menekan risiko penyakit jantung. Masyarakat harus membiasakan gaya hidup sehat dimulai dari lingkungan keluarga. Hal yang paling mudah dilakukan ialah olahraga rutin. Pada usia pertengahan, aktivitas olahraga sebaiknya dilakukan 3,5 jam setiap minggu. Sementara itu, usia muda setidaknya melakukan olahraga 7 jam per minggu.

"Jangan menjadikan sibuk sebagai alasan klise untuk tidak berolahraga. Olahraga teratur bisa menurunkan risiko penyakit jantung 30%-40%, serta menekan risiko stroke 25%," ungkapnya.

 

Aktif bergerak

Selain itu, masyarakat disarankan aktif bergerak dan mengurangi kebiasaan duduk. Penggunaan gawai yang berlebihan juga memicu keenganan untuk bergerak.

Antonia turut mengingatkan bahaya pola kerja karyawan yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer. Ditambah lagi waktu duduk selama perjalanan, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

"Banyak pekerja kantoran yang terkena penyakit duduk. Perut mereka buncit, tapi badannya kurus. Hal itu disebabkan kebiasaan duduk seharian, belum lagi ditambah waktu perjalanan. Duduk terlalu lama meningkatkan berbagai risiko penyakit," jelas Antonia yang merupakan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI).

Upaya mencegah penyakit jantung juga harus memerhatikan pola makan. Kementerian Kesehatan menyatakan sebagian besar penyakit jantung diakibatkan gaya hidup yang tidak sehat, seperti mengonsumsi makanan berlemak. Masyarakat diminta menghindari makanan dengan kadar gula dan garam yang tinggi. Pola makan sehat dan bergizi dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

"Kurangi karbohidrat dan gorengan. Di Indonesia, musuh utama ialah gorengan. Kenapa? Karena itu menjadi makanan sehari-hari. Masakan rumahan pasti ada yang digoreng. Sebaiknya olah makanan dengan direbus, dikukus, atau dibakar," tukasnya.

Menjaga berat badan tetap ideal, juga berkontribusi menekan risiko penyakit jantung. Perlu juga menjauhi rokok dan asapnya sebab merokok ialah salah satu faktor penyebab penyakit kardiovaskular. Pemeriksaan kesehatan secara berkala walaupun tidak ada keluhan atau gejala penyakit, penting untuk dilakukan, termasuk mengecek gula darah, tekanan darah, dan kolesterol. (Tes/S-2)

BERITA TERKAIT