30 September 2019, 08:51 WIB

Konsumsi Susu Kental Manis Picu Stunting di Sejumlah Daerah


Eni Kartinah | Humaniora

Antara/Reno Esnir
 Antara/Reno Esnir
Seniman pantomim dari Dewan Kesehatan Rakyat melakukan aksi teatrikal untuk tidak memberi susu kental manis kepada anak di Jakarta.

DATA prevalensi stunting masih tinggi di Indonesia, Tiga provinsi yang angka stuntingnya masih tinggi yakni Aceh (30,8%), Kalimantan Tengah (34%) dan Sulawesi Utara (25,5%) .

Terkait permasalahan stunting, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) bersama dengan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah melakukan survei tentang kebiasaan konsumsi susu kental manis dan dampaknya terhadap gizi buruk anak.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 tercatat persentase stunting di Indonesia adalah 30,8%. Meski terjadi penurunan dari periode sebelumnya (Riskesdas 2013), prevalensi stunting Indonesia 37,2%).

Namun mengingat ambang batas toleransi stunting yang ditetapkan WHO adalah 20% dari jumlah keseluruhan balita, maka Indonesia masih termasuk kategori negara dengan darurat gizi buruk.

Stunting atau kekurangan gizi secara kronis dipengaruhi secara langsung oleh asupan makanan dan status kesehatan bayi. Penyebab utama terjadinya stunting  adalah kemiskinan terutama kondisi daerah yang terisolir. 

Kondisi tersebut juga umum terjadi pada masyarakat dengan status ekonomi menengah atas.  Salah satu faktor yang berperan terhadap terjadinya stunting adalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai asupan makanan bergizi pada anak terutama periode 1.000 HPK atau 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).  

Berbagai studi dan fakta di masyarakat menunjukkan bahwa terjadinya kekurangan gizi yaitu gizi buruk dan stunting disebabkan kesalahan pemberian  asupan makanan, seperti konsumsi gula (glukosa) yang berlebih. Tingginya asupan gula pada anak dapat beresiko anak mengalami gangguan tumbuh kembang, PTM hingga gizi buruk.

Sebelumnya, pada 2018, YAICI bekerja sama dengan Yayasan Peduli Negeri (YPN) Makassar dan Stikes Ibnu Sina Batam melakukan survei tentang Persepsi Masyarakat tentang Susu Kental Manis. 

Survei yang dilakukan terhadap 400 ibu di Kelurahan Mandonga, Kec. Mandonga, Kota Kendari dan 300 ibu di Kelurahan Sagulung Kota, Kec. Sagulung, Kota Batam yang memiliki anak usia 7 tahun, menunjukan sebanyak 97% ibu di Kendari dan 78% ibu di Batam memiliki persepsi bahwa susu kental manis adalah susu yang bisa di konsumsi layaknya minuman susu untuk anak. SKM memiliki kandungan gula yang tinggi yaitu 20 gram per sekali saji 1 gelas dengan nilai protein 1 gram, lebih  rendah dari susu lainnya.

Menindaklanjuti temuan tersebut, maka diperlukan pemetaan persepsi masyarakat, tingkat konsumsi SKM dan kejadian stunting yang menyeluruh. Oleh karena itulah kerja sama YAICI dan Majelis Kesehatan PP. Aisyiyah yang sejak awal 2019 fokus pada edukasi gizi untuk masyarakat diperkuat dengan melakukan penelitian di wilayah-wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.

Imbauan terhadap pembatasan konsumsi susu kental manis (SKM) terutama larangan bagi bayi ditetapkan dalam Perka BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan terkait SKM Sebagai Bentuk Perlindungan bagi Masyarakat. 

Peraturan ini sebelumnya diinformasikan dengan dikeluarkannya Surat edaran No HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada produk SKM dan Analognya (subkategori pangan 01.3) yang ditujukan kepada seluruh produsen/importir/distributor SKM. 

Sayangnya, iklan produk SKM yang telah bertahun-tahun menjadi konsumsi masyarakat mengakibatkan masyarakat telah terlanjur beranggapan bahwa SKM adalah susu yang dapat dikonsumsi oleh keluarga.

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat menegaskan adanya regulasi dari pemerintah tentang SKM tidak serta merta menghilangkan kebiasaan masyarakat mengkonsumsi SKM.

"Berbagai alasan orang tua terutama di wilayah pedesaan dalam memberikan SKM untuk anak adalah fakta yang ditemukan di masyarakat khususnya di pedesaan. Alasannya karena sudah terbiasa serta pengaruh iklan di televisi,” ujar Arif Hidayat.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Dra Chairunnisa M.Kes mengatakan penelitian ini untuk mengetahui tingkat gizi buruk dan stunting serta dampak pemberian SKM/KKM dan faktor lainnya terhadap kejadian stunting pada balita.

Penelitian di tiga provinsi ini terkait dengan kegiatan Gerakan Aisyiyah Sehat (GRASS) yang didalamnya ada pencegahan stunting, Penyakit Tak Menular (PTM), Kesehatan Ibu dan Anak dan Peningkatan Cakupan Imunisasi yang bekerjasama dengan Promkes dengan Mobilisasi Sosial menggerakan masyarakat di 9 Kabupaten.

Penelitian ini juga melibatkan kader GRASS sebagai penggali data dan informasi di lapangan.

“Penelitian ini diperlukan untuk memberikan rekomendasi sebagai dasar pengambilan kebijakan kesehatan masyarakat yang bersifat promotive dan preventif  menurunkan prevalensi stunting,” jelas Chairunnisa.

Penelitian dilakukan dengan pendekatan mix method yang menggabungkan kuantitatif dan kualitatif yaitu dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan metode survey cepat dengan variabel dependen penelitian adalah kejadian stunting pada balita dengan  variable independent utamanya adalah konsumsi SKM.  

Pengisian survei oleh responden di tiga lokus penelitian yaitu Banda Aceh, Takengon (Aceg Tengah) serta Sigli di kabupaten Pidie telah dilakukan. Berdasarkan survey dan pendataan tersebut, ditemukan sejumlah keluarga yang anak-anaknya mengkonsumsi krimmer kental manis (KKM).

Keluarga Ibu Juniar di Pidie misalnya, ketiga anaknya yang berusia 2,5 tahun, 1,5 tahun dan 6 bulan mengkonsumsi KKM. Menurut penuturan perantau asal Medan ini, awal mula anak-anaknya mengkonsumsi KKM datang dari anaknya yang paling besar. Rata-rata, dalam satu hari masing-masing anak mengkonsumsi 3 gelas KKM.  (OL-09)

BERITA TERKAIT