30 September 2019, 08:27 WIB

Rumah Aman Asap untuk Antisipasi Dampak Asap Karhutla


Dero Iqbal Mahendra | Humaniora

MI/Grafik
 MI/Grafik
Grafis rumah singgah aman asap.

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) sampai saat masih terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, seperti Riau, Kalimantan Tengah, Jambi,
Sumatra Selatan dan wilayah lainnya. Hal itu tentunya berdampak terganggunya aktivitas dan ganggung kesehatan masyarakat.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah turun langsung ke daerah untuk memperkuat dinas kesehatan setempat dalam upayanya menangani kesehatan masyarakat yang terdampak karhutla.

Upaya itu di antaranya menyiagakan puskesmas 24 jam dan mendirikan pos kesehatan, mobilisasi tim kaji cepat, mendirikan rumah singgah, promosi kesehatan, dan distribusi logistik kesehatan, termasuk pembagian masker.

Kemenkes juga telah mendistribusikan logistik yang digunakan untuk pelayanan kesehatan. Di antaranya Provinsi Riau sebanyak 1.586.000
masker, 202.200 masker N95, 3.000 Oxycan, obat-obatan dan suplemen.

Di Provinsi Sumatra Selatan Kemenkes mendistribusikan bantuan berupa 1 ton PMT balita dan 0.5 ton PMT ibu hamil, serta di Kalimantan Tengah
berupa 517.000 masker karet dan 25 kg MP-ASI.

“Puskesmas menjadi fasilitas pertama yang siaga melayani warga terdampak karhutla. Pencegahan sebelum terjadinya hal yang tak diinginkan harus
dilakukan, terutama bagi masyarakat yang terserang ISPA,” kata Menteri Kesehatan Nila Moeloek, saat meninjau kesiapan fasilitas pelayanan
kesehatan di Pekanbaru, Riau, Senin (16/9/) lalu.

Menkes mengimbau dinas kesehatan menyiagakan ambulans Public Safety Center (PSC) 119 di berbagai titik untuk memudahkan warga terdampak
karhutla bila mengalami gawat darurat.

Menyiapkan rumah aman asap

Sementara itu, untuk menjaga kesehatan warga, Kemenkes memfasilitasi dan mendorong pemerintah provinsi yang terdampak karhutla menyediakan rumah singgah aman asap. Sebagian besar provinsi terdampak karhutla telah menyediakan rumah singgah aman asap.

Di antaranya Riau sebanyak 81 buah, Kalimantan Barat sebanyak 7 buah dan Jambi sejumlah 7 buah. Sedangkan di Kalimantan Tengah sebanyak 212 titik yang terdiri dari rumah singgah aman asap 199 unit dan ruang aman asap bergerak 13 unit.

Ruang tanpa asap ini dilengkapi dengan kipas pembuang udara, AC, air purifier, dan kain untuk menutup jendela.

Rumah tanpa asap pun sebenarnya dapat dibuat masyarakat sendiri di rumah mereka masing-masing. Setiap warga dapat menggunakan ruangan khusus yang aman dari asap.

Ruangan tersebut menggunakan konsep teknologi tepat guna dengan menggunakan kain dakron yang dibasahi di setiap ventilasi udara.

Kain yang disemprotkan air tersebut akan menghambat partikel asap terhirup manusia.

“Karena itu saya usulkan di rumah-rumah ada satu ruangan seperti rumah singgah, jendelanya tertutup kain dakron yang dibasahi secara berkala supaya ketika asap masuk partikelnya menempel di kain itu, tidak masuk ke hidung,” ujar Menkes Nila Moeloek dalam kunjungan ke Pekanbaru, Riau.

Pada ruang rumah singgah tanpa asap tersebut semua bagian ruangan harus tertutup, tidak terkecuali celah jendela dan pintu. Rumah singgah yang
baik merupakan sebuah ruangan yang terdapat pendingin udara, ventilasi jendela atau pintu yang ditutupi kain, dan memasang pengisap udara.

Pada rumah singgah bebas asap tersebut, selain menggunakan kain dakron yang dibasahi secara berkala pada lubang ventilasi, juga menggunakan
lapisan vitrase pada jendela yang disemprotkan air bersih secara berkala. Hal tersebut bertujuan menangkap partikel seperti debu dan asap agar tidak masuk ke dalam ruangan.

Dalam ruangan bebas asap juga direkomendasikan untuk memiliki kipas pembuangan udara sehingga bila memang ada asap yang masuk dapat segera dikeluarkan.

Penyedot udara ini juga berfungsi untuk menciptakan sirkulasi udara yang lebih baik. Kondisi ruangan itu lebih baik lagi bila dilengkapi dengan penyejuk ruangan (air conditioner) dan pembersih udara (air purifier). (RO/Dro/S2-25/OL-09)

BERITA TERKAIT