30 September 2019, 08:40 WIB

Obat Pahit untuk Mengatasi Kebakaran


Atikah Ismah Winahyu | Humaniora

Dok. Metro TV
 Dok. Metro TV
Kepala Dep Advokasi Walhi Zenzi Suhadi 

SELAMA ini kita gagal menghentikan kebakaran hutan karena kita ini sifatnya merespons, ada api baru respons. Setiap ada kebakaran, masyarakat selalu di-salahkan, sehingga kalau dibilang, sosialisasinya harus ke masyarakat.

Kami bekerja hampir di di seluruh provinsi dan kabupaten yang selama ini kebakaran. Sebelum terjadi kebakaran dan kerusakan sudah kami ingatkan lebih dulu. Ketika kebakaran, juga kami ingatkan, begini solusi-nya. Artinya persoalan bukan di masyarakat, bukan di lingkungan kita.

Persoalan pertama kita ialah kebakaran hutan dan asap ini bukan bermula dari korek api, tetapi bermula dari pena dan penyelesaiannya harus dari pena.

Kesalahan mendasarnya ialah diizinkan kawasan yang terendam air ini dikeringkan. Selama pola pikir kita masih terus mengeringkan kawasan ini, kita akan terus berhadapan dengan kebakaran hutan dan asap.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita lakukan untuk mengobati persoalan ini. Pertama, tinjau ulang perizinan. Kita tidak boleh menoleransi, kalau ini kejahatan terhadap lingkungan, kita harus hentikan, cabut perizinan.

Kemudian kedua, memulihkan ekosistem yang harus dilakukan secara total, dan ketiga, wilayah-wilayah kelola masyarakat harus dikembalikan kepada masyarakat. Satu kesalahan kita, kalau kita melihat suatu wilayah itu hutan tidak ada perkebunan, menurut kita tidak produktif.

Kami sudah melakukan penelitian di Kalimantan Selatan, Jambi, dan Sumatra Selatan, justru nilai ekonomi kawasan gambut yang hutannya masih bagus itu dua kali lipat daripada nilai ekonomi kalau dijadikan sawit. Pengetahuan seperti ini yang harus kita perbanyak supaya pemerintah melihatnya tidak dalam ­kegelapan.

Obat itu pahit, tinggal kita berani atau tidak untuk meminumnya. Tapi kalau kita ketakutan bahwa keputusan itu akan mengganggu ekonomi, saya nyatakan harus dipikirkan ulang sebab justru masyarakat yang menjaga hutan selama ini yang menyangga pangan Indonesia. (Aiw/X-11)

BERITA TERKAIT