30 September 2019, 07:00 WIB

Berjalan Dua Pekan, Ganjil-Genap Dinilai Efektif Kurangi Polusi


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

MI/SASKIA ANINDYA PUTRI
 MI/SASKIA ANINDYA PUTRI
Kendaraan roda empat berplat genap melintasi area ganjil genap di Jalan RS. Fatmawati Raya, Jakarta Selatan.

DINAS Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mengungkapkan aturan perluasan ganjil genap efektif memperbaiki kualitas udara di ibu kota. Hal itu ditandai dengan penurunan rata-rata kosentrasi polutan jenis PM 2.5 sebesar 20,23%

Hal itu didapati berdasarkan data pemantauan dari dua Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) di lokasi yang beririsan dengan penerapan perluasan ganjil genap, yakni Stasioner Bundaran HI dan Stasioner Kelapa Gading.

"Dari semula 59,68 µg menjadi 47,60 µg atau mengalami penurunan sebesar 20,23%," ujar Kepala Dishub DKI Jakarta, Syafrin Liputo saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (29/9).

Baca juga: Kebijakan Ganjil-Genap Perbaiki Kualitas Udara Jakarta

Syafrin mengatakan data yang digunakan pihaknya berasal dari Dinas Lingkungan Hidup DKI sesuai hasil pengukuran di kedua stasioner tersebut.

Kualitas Udara di Jakarta pada sore hari ini memang diprediksi tidak sehat. Hal itu berdasarkan data AirVisual, dengan US Air Quality Index (AQI) atau indeks kualitas udara di Jakarta tercatat di angka 141 PM2.5 Konsentrasi 52 µg/m³, pada pukul 15.22 wib.

Berdasarkan data AirVisual, Jakarta diketahui menempati urutan 10 sebagai kota paling tercemar di dunia. Sebelumnya, pada 5 September, Jakarta pernah berada di peringkat pertama sebagai kota dengan udara paling tercemar di dunia. (OL-2)

BERITA TERKAIT