30 September 2019, 06:40 WIB

Wamena bukan Konflik Etnik


Yose Hendra | Nusantara

ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
 ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Wakil Gubernur Sumatra Barat Nasrul Abit.

WAKIL Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, menyesalkan kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, yang menyebabkan 33 orang meninggal, yang 9 di antaranya merupakan perantau asal Minang. Namun, dia menegaskan tidak ada konflik etnik.

"Ini bukanlah konflik etnik. Hindari provokasi, jangan terprovokasi. Jangan sebar informasi yang menimbulkan konflik," ujar Nasrul di Padang, Sumbar, kemarin.

Untuk mencari kebenaran sekaligus memastikan kondisi perantau Minang di sana, Nasrul bertandang ke Papua selama tiga hari terakhir. Dia mengadakan pertemuan dengan sejumlah Forum Pimpinan Daerah (Forkompida) Papua hingga menyambangi posko pengungsian di Sentani dan di Kodim 1702/Jayawijaya. "Banyak pengungsi dari berbagai daerah. Kita doakan situasi kembali normal. Semoga aparat keamanan bisa mengatasi persoalan ini."

Ketua Ikatan Keluarga Minang (IKM) Papua, Zulhendri Sikumbang, mengatakan ada sekitar 472 jiwa orang Minang yang mengungsi di beberapa posko pengungsian.

Menurutnya, kedatangan Wagub Nasrul Abit juga untuk menyampaikan ikhtiar Pemprov Sumbar memfasilitasi pemulangan orang Minang di Wamena serta yang mengungsi di Sentani dan Jayapura. "Namun, tidak keseluruhan. Yang mau pulang disiapkan oleh pemprov."

Zulhendri menambahkan, di posko pengungsian, solidaritas bertumbuh. Hal itu menandakan bahwa kerusuhan ini bukanlah konflik etnik.

Sumber: Tim Riset MI

 

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah juga terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Pemprov Papua untuk memastikan kondisi masyarakat asal Sulsel di Papua, khususnya di Wamena. Warga Sulsel yang berada di Wamena telah dievakuasi ke Jayapura dan yang masih di Wamena (untuk sementara) berada di markas TNI dan kantor polisi. Sembilan warga Wawena asal Sulsel tewas dalam kerusuhan beberapa hari lalu.

Dalam rilis kemarin, tokoh bangsa Syafii Maarif memaparkan bahwa pelaku kerusuhan di Wamena sebenarnya bukan masyarakat Wamena, melainkan sekelompok orang yang turun dari gunung. Mereka beraksi atas suruhan pihak-pihak yang ingin melepaskan diri dari NKRI.

Syafii mengaku mendapatkan informasi itu dari pejabat tinggi yang sedang berada di Papua. Dia juga menyatakan tidak benar masyarakat Wamena benci kepada masyarakat pendatang. Bagi masyarakat Wamena, para pendatang ialah bagian dari masyarakat yang mendorong kemajuan ekonomi mereka.

Buya Syafii berharap tidak ada lagi informasi simpang siur yang semakin liar. Jika informasi sesat itu dibiarkan, keadaan bisa memburuk.

 

Mulai kondusif

Situasi di Wamena mulai kondusif. Meski demikian, aktivitas masyarakat dan roda perekonomian masih sepi. Komandan Kodim 1702/Wamena, Letkol Inf Chandra Dianto, mengatakan pihaknya bersama kepolisian terus memonitor guna memberikan rasa aman bagi warga.

Chandra tak menampik fakta bahwa eksodus warga pendatang dari Wamena terus bertambah. Hingga kemarin, total sudah ada 4.661 orang yang keluar dari Wamena. "Sebanyak 4.478 orang diterbangkan ke Jayapura dan 183 menuju Mimika. Kita sama-sama berharap kondisi lekas pulih seperti sedia kala," terangnya.

Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal menyatakan Polri telah menetapkan tiga tersangka kasus Wamena. Adapun untuk perkara pembakaran di Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang, empat orang menjadi tersangka. (Ths/LN/MC/X-8)

BERITA TERKAIT