30 September 2019, 01:50 WIB

Sarjana, Hoaks, dan Upaya Perdamaian


Sidik Nugroho Pendidik | Opini

MI/Duta
 MI/Duta
Opini

LEE Israel, penulis kenamaan, suatu ketika mengalami writer’s block. Ia kehabisan ide dan kehilangan semangat menulis. Buku terakhir yang ditulisnya kurang sukses secara komersial. Suatu hari ia menjual surat bertanda tangan dari Katherine Hepburn, artis kenamaan, kepada seorang kolektor. Uang itu pun cukup untuk membuatnya bertahan hidup. Beberapa waktu kemudian, ia menemukan dua surat lain ditulis dan ditandatangani Fanny Brice, komedian kenamaan, di sebuah perpustakaan. Kedua surat itu pun laku dijualnya. 

Ketagihan menjual surat-surat tokoh kenamaan, ia pun menjadi pemalsu yang lihai. Tak hanya tanda tangan, isi surat juga ia palsukan. Untuk memalsukan isi surat, ia tak asal-asalan. Ia rajin membaca biografi para tokoh kenamaan agar pemalsuannya tak terendus. Bukan hanya tak terendus, ia mampu membuat surat itu jadi tampak benar-benar ditulis sang tokoh dengan beberapa sentuhan personal, misalnya humor.

Kisah Lee Israel yang ditampilkan dalam film Can You Ever Forgive Me (Marielle Heller: 2018), di satu sisi menawarkan refleksi mendalam tentang perjuangan hidup seorang penulis, dan di sisi lain menawarkan pemikiran penting tentang bagaimana seorang penulis juga ilmuwan, guru, peneliti, sarjana, atau akademisi--menyikapi autentisitas: Lee Israel meneliti untuk meniru, sedangkan banyak orang meniru begitu saja penelitian orang lain. 

Kita pun mungkin pernah mendengar berbagai bentuk pemalsuan dan plagiarisme, bisa kita cari beritanya di internet; ada komedian yang belakangan ramai diberitakan karena memalsukan ijazahnya, ada sindikat guru di Gowa, Sulawesi Selatan, yang memalsukan PTK (penelitian tindakan kelas) untuk guru-guru lain, dan masih banyak kasus yang lainnya.

Begitulah, karena malas meneliti, beberapa orang menempuh jalan instan; meniru tanpa harus berlelah-lelah meneliti dan belajar, tapi dengan serta-merta mengakui karya tiruan sebagai karya mereka. Akan sangat menyedihkan kalau sarjana dan insan-insan pendidikan di Tanah Air lainnya menempuh jalan pintas untuk mendapat gelar atau menduduki jabatan.


Kepakaran dan hoaks

Setiap 29 September diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional. Tujuan peringatan ini ialah untuk memberi penghargaan kepada masyarakat yang memiliki gelar sarjana yang (diharapkan) memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa dengan pemikiran dan karya. Namun, peringatan ini sering berlalu begitu saja--sepi, tanpa perayaan apa-apa. 

Padahal, kadar intelektualitas seseorang dapat berkembang pesat ketika ia berada di bangku kuliah. Seorang bergelar sarjana, dengan ilmu atau kecakapan yang dia pelajari di bangku kuliah dan penelitian yang dia lakukan dalam menulis karya ilmiah mestinya menjadi standar yang ideal untuk melekatkan kata ‘akademis’, ‘pakar’, atau ‘ilmiah’.

Namun, zaman sudah berubah. Semua orang tampaknya kian mudah (merasa) menjadi pakar dalam menilai apa pun dari seni sampai politik belakangan. Lihatlah betapa riuh media sosial ketika merespons isu-isu yang belum jelas kebenarannya. Tim Nichols dalam buku Mati­nya Kepakaran (2018) mengingatkan tentang bahaya yang dapat ditimbulkan internet dan media sosial; “... perpaduan hiburan, berita, pembicara, dan partisipasi warga ialah kekacauan yang tidak banyak memberi informasi kepada kita dan malah menciptakan ilusi sehingga orang merasa telah mendapatkan informasi” (halaman 173). Bukannya informasi, yang beredar ialah hoaks.

Munculnya orang-orang di media sosial sebagai influencer yang kadar dan rekam jejak intelektualitasnya diperta­nyakan, mestinya memantik para sarjana untuk mengambil sikap. Apalagi bila wacana yang ditebar memantik permusuhan dan pertikaian. Guru, yang notabene juga sarjana, perlu mengambil langkah. Sekolah-sekolah mesti membiasakan gerakan membaca, menulis, dan berdiskusi karena aktivitas-aktivitas itulah yang membuat nalar kritis tumbuh subur, mencegah hoaks untuk terus berkembang.


Kearifan untuk perdamaian

Dalam suratnya kepada umat muslim menjelang Idul Fitri 2000, setahun sebelum peristiwa serangan 11 September 2001, Kardinal Francis Arinze mengisahkan pertemuan penting menyongsong milenium baru pada Oktober 1999 di Vatikan yang dihadiri sekitar 200 orang dari sekitar 20 tradisi agama yang berbeda, menulis pesan paripurna. 

Pesan itu menegaskan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan pemahaman, kerja sama, dan saling menghormati di antara umat beragama. Laporan yang didapatkan dari pertemuan itu, di antaranya simpulan; “... pendidikan ialah kunci untuk memajukan kerukunan umat beragama, melalui penghargaan pada tradisi keagamaan yang berbeda.”

Kata-kata ‘tradisi ke­agamaan’ tampaknya menjadi penting di pesan itu. Tradisi, yang dalam beberapa hal berhubungan dengan kearifan lokal, budaya, atau warisan leluhur, perlu dijaga dan dilestarikan. Malangnya, sebagian masyarakat di bangsa kita belakangan banyak yang suka mendewakan ide-ide transnasional, tidak merawat pemikiran bapak dan guru-guru bangsa yang menyuarakan nasionalisme dan humanisme. Ide-ide transnasional itu ada yang mencederai persatuan dan kesatuan bangsa, juga membuat masyarakat meninggalkan kearifan lokal.

Padahal, dari kearifan lokal di seluruh penjuru Nusantara, kita dapat belajar tentang semangat perdamaian. Di Kalimantan, tempat saya tinggal, misalnya, ada semboyan suku Dayak yang mengajarkan kesederajatan; ‘adil ka’ talino, bacuramin ka’ saruga, basengat ka’ jubata’ yang artinya kurang lebih ‘adil terhadap sesama manusia, bercermin hidup pada surga, selalu mengingat Tuhan sebagai pemberi kehidupan’.

Di beberapa wilayah di Kalimantan pernah terjadi konflik antarsuku. Bila kearifan lokal itu terus terpelihara di jiwa masyarakat, kita pun boleh berharap tidak muncul konflik lain yang serupa di kemudian hari, atau konflik dalam bentuk lainnya seperti terorisme. Dayak baru satu contoh. Di suku-suku lain, lewat cerita rakyat, peribahasa, pepatah petitih, lagu daerah, tentunya banyak kearifan lokal yang menyuarakan perdamaian dan persatuan.

Perdamaian merupakan kearifan yang perlu diupayakan banyak kalangan, termasuk sekolah. Pendidikan kita, terutama dalam mata-mata pelajaran tentang agama, kehidupan sosial, dan bermasyarakat, mestinya tak domi­nan berisi hafalan atau wacana yang tak berdaya gugah. Akan disayangkan pula bila kecerdasan yang terbentuk lewat pendidikan baru dalam tahap kecerdasan mekanis (mechanical intelligence), belum sampai pada taraf kecerdasan kreatif (creative intelligence), apalagi kearifan (wisdom) (Sumardianta:2013). 

Perdamaian muncul karena kearifan. Untuk menjadi pendamai yang dibutuhkan ialah kualitas batin, bukan kecerdasan pikiran semata-mata. Inilah tugas penting yang mendatangi guru saat bangsa ini dihujani kebencian dan permusuhan; mengajak siswanya menyukai perdamai­an. Kebencian melahirkan tragedi, permusuhan melahirkan dendam, tapi mereka yang menjaga perdamaian akan hidup sebagai teladan.

BERITA TERKAIT