30 September 2019, 00:00 WIB

Berlomba Jadi Desa Wisata


Liliek Dharmawan | Nusantara

MI/Liliek Dharmawan
 MI/Liliek Dharmawan
Desa Wisata

DUA kelompok besar warga terbentuk di Purbalingga, Jawa Tengah, Sabtu (28/9). Sebagian warga datang ke Desa Serang, Kecamatan Karangreja dan sekelompok besar warga lain mengunjungi Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon. 

Dua hajatan besar digelar di dua desa itu. Di Serang, warga menggelar Festival Gunung Slamet dan di Kedung Benda Festival Congot.  “Ini festival tahunan. Sejumlah desa di Purbalingga telah memiliki agenda budaya tahunan untuk melestarikan budaya, sekaligus menarik wisatawan untuk datang,” ungkap Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, kemarin. 

Desa-desa di kabupaten ini sangat kreatif menyelenggarakan berbagai festival. “Selain akan mempersatukan dan menguatkan rasa kegotongroyongan antarawarga, karya mereka juga mengenalkan desanya ke daerah lain,” lanjut Dyah. 

Dia berharap ke depan event budaya harus terus ditingkatkan. Nantinya, festival desa bisa menjadi agenda budaya yang tidak hanya lokal, tetapi juga regional bahkan nasional. 

Festival Gunung Slamet ialah prosesi ritual pengambilan air di Tuk Sikopyah, mata air di perbukitan. Ada prosesi jalan kaki sejauh 2,5 kilometer yang harus dilakukan. Festival ini mengajak warga untuk senantiasa menjaga sumber air, menjaga alam, menjaga lingkungan. 

Sementara itu, Festival Congot digelar oleh warga dengan melarung hasil bumi di Sungai Serayu. Sebelumnya dilakukan arak-arakan hasil bumi berkeliling kampung. Festival ini mengingatkan warga untuk selalu mensyukuri nikmat dari Sang Mahakkuasa. 


Desa Sesaot

Akhir pekan lalu, benar-benar menjadi pesta bagi sejumlah desa di Indonesia. Desa Wisata Sesaot, di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, misalnya, diganjar penghargaan sebagai Indonesia Sustainable Tourism­ Award 2019 di bidang lingkungan. 

Penghargaan diberikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya kepada Kepala Desa Sesaot, Yuni Hariseni, bersama Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid di Jakarta. 

“Desa Sesaot berhasil menjalankan tahapan dalam Sustainable Tourism Development. Sudah tiga tahun terakhir ini, Sesaot dan kawasan di sekitarnya menjadi pilot project pengembangan pariwisata berkelanjutan,” tutur Bupati Fauzan. 

Ini bukan ajang ecek-ecek. ISTA 2019 ini diikuti sekitar 300 destinasi wisata se-Indonesia. Ada empat ka­tegori award, yakni bidang lingkung­an, ekonomi, sosial budaya, dan tata kelola. 

“Kami optimitis dengan perkembangan wisata di tiga desa sekitar Sesaot. Award ini menjadi pemicu agar wisata bisa berdampak ekonomi pada warga,” ujar Yuni Hariseni. 

Di Bali, pemerintah provinsi juga menganugerahkan Desa Wisata Award bagi desa wisata yang berprestasi. “Kami mendorong warga berinovasi untuk menciptakan lingkungan yang baik sehingga bisa meningkatkan kualitas wisata dan ekonomi bisa tumbuh,” ujar Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati. 

Tahun ini Desa Wisata yang dilombakan berjumlah sembilan desa, yakni Desa Wisata Sudaji di Kabupaten Buleleng, Desa Wisata Catur di Bangli, dan Desa Wisata Tista di Tabanan. (YR/RS/OL/N-3) 

BERITA TERKAIT