29 September 2019, 19:53 WIB

Seblak dan Baso Aci Menembus Bisnis Tanpa Sekat


Iis Zatnika | Ekonomi

MI
 MI
Tampilan Baso Aci Terciduk 

Kemasan Mommy Seblak Basah Instan itu menyerupai mi instan yang bisa dihidangkan cukup dengan kucuran air panas. Gelasnya dari kertas yang dimodifikasi agar antibocor, dengan lapisan plastik di bagian luarnya untuk memastikan kualitas terjaga, pun higienitasnya.

Di situs belanja daring Toko Erju, tertulis keterangan, "seblak basah mirip dengan mi instan, namun minya diganti kerupuk," untuk mememperkenalkan camilan asal Jawa Barat itu. "Ini dipesan ke seluruh nusantara lo, ke Papua juga," ujar Ernest Yosua, sang juragan Toko ErJu, yang kini berdagang di tiga e-commerce ternama ketika ditemui di markasnya di Bandung, Jawa Barat.

Inovasi camilan yang tak kalah kreatif, hampir seluruhnya dari sekitar Jawa Barat, terlihat di gudang Erju yang tertata rapi. Namanya keren, kemasannya istimewa, rasa dan bahan baku yang digunakan juga tak kalah kreatif.

Ada Pikyem alias keripik peuyeum yang berbahan tapai singkong, Sangar Cimol yang terinspirasi jajanan cimol yang biasanya digoreng mendadak, dikemas dengan gambar efek bola api, mencerminkan rasanya yang pedas. Ada pula Cokelat Mantan yang sejatinya cokelat dengan susu dengan potret perempuan galau didepannya, Ginding Cuankie Express yang dikemas dalam mangkuk seperti lazimnya mi instan dalam gelas siap saji, langsung dapat disiram air panas.

"Ada yang dari Kota Bandung sini, Kabupaten Bandung, Sukabumi, Bogor dan daerah lainnya. Semuanya dari Jawa Barat karena memang Erju fokusnya di camilan kreatif dari tanah Sunda, nggak perlu jauh-jauh ke provinsi lain, jenisnya sudah sangat banyak, enak-enak dan disukai pasar," ujar Ernest yang menjual sedikitnya 300 jenis camilan yang semuanya telah divalidasi, minimal nomor registrasi PIRT (Produk Industri Rumah Tangga) dari Dinas Kesehatan setempat. Sebagian lainnya, bahkan telah diregistrasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM).

Menghubungkan kebun, produsen, pedagang dan konsumen
Ernest merintis bisnis berjualan camilan daring sejak 2015 dan kini dibantu empat karyawan yang berbagi tugas, mengelola administrasi pesanan dan pengiriman, termasuk melayani pertanyaan dari pembeli, serta tiga lainnya, mengemas produk sebelum dikirim. "Buat produk makanan seperti ini memang harus ekstra hati-hati mengemas dan memilih perusahaan kurir, ada lapisan plastik bubble, karton bekas, plastik untuk memastikan makanan itu sampai di tangan konsumen dengan baik, tidak hancur dan tentunya tepat waktu karena kan terkait kadaluarsa. Makanya harus pilih jasa pengiriman yang bagus juga supaya produk nggak rusak,"ujar Enest yang tengah bersiap mengirim pesanan-pesanan itu ke lokasi JNE, perusahaan eskpedisi yang menjadi langganan utamanya.

Empat karyawan ErJu hilir mudik menerima dan sesekali menjemput stok, mengemas pesanan hingga mengantarnya ke lokasi ekspedisi. Roda ekonomi pun berputar, rangkaiannya dimulai dari kebun-kebun petani yang sebagian besar tersebar di Tatar Sunda, menuju ke dapur-dapur, lokasi produksi aneka penganan yang memadukan harmoni antara rasa dengan kreatifitas. Menggunakan medium digital sebagai penghubung, sang produsen itu lalu terkoneksi dengan pemilik toko di dunia maya. Mereka bertumbuh seiring gaya hidup digital masyarakat Indonesia serta geliat para pelaku industri kreatif.

Pun, teknologi pula yang kemudian mengantarkan pesanan berupa aneka camilan berbasis aneka bahan lokal, mulai singkong, pisang sale hingga talas itu ke tangan perusahaan jasa antar, dan dengan bantuan armada, mengirimnya hingga ke pemesan dari seantero nusantara.

Semangat Baso Aci Terciduk
Salah satu pelaku inovasi kuliner nan kreatif yang terhubung dengan konsumennya nyaris tanpa sekat, berkat sinergi perusahaan jasa pengiriman dan pelaku e-commerce itu adalah Siti Napisah, pendiri Baso Aci Terciduk. Bisnis itu, dirintisnya sejak maish  kuliah di Jurusan Agroteknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Bersama sang suami, Napisah memulai usahanya di usia 21 tahun. Mulai dini hari, ia mengolah adonan dibantu karyawan hingga mengemas dalam kemasan kedap udara untuk menjaga keawetannya. Jika semula ia menggunakan plastik tembus pandang sederhana, kini Baso Aci Terciduk telah dikemas menyerupai camilan buatan pabrik sehingga lebih representatif.   

"Mulai pada April 2018, kini produksi setiap hari lebih dari 1.000-1.500 bungkus. Ini seperti mi instan yang tinggal direbus dan dicampur bumbu saja, tapi bahan-bahan yang saya jual sudah matang, jadi kalau mau pakai air panas langsung juga bisa.Di dalam kemasan ada bakso aci, siomai, cuanki tahu, pilus rasa kencur, telor puyuh serta minyak dan bumbu asin dan pedas," ujar pemilik akun @basoaci_terciduk itu.  

Napisah mengaku sangat bergantung pada perusahaan jasa pengiriman karena sepenuhnya menjual lewat pasar daring dan mengirimnya ke berbagai kota, karena produknya bisa tahan hingga empat hari.

"Sekarang omsetnya bisa Rp25 juta-Rp30 juta per bulan, kalau produk sudah sampai seluruh kawasan Bandung, Jabodetabek, Cianjur, Banten," ujar Napisah yang juga menerapkan sistem keagenan yang juga bergerak di pasar daring dan menjual minimal 20 buah. Di tingkat konsumen, satu kemasan dihargai sekitar Rp 12 ribu.  

Mengalirkan inspirasi, berbagi berkah
Jika napisah membengun keagenan untuk mengalirkan rezeki pada mereka yang juga punya semangat berwirausaha, langkah serupa juga dilakukan Ernest. Ia menjadi aktivis komunitas pebisnis daring.

"Saya termasuk beruntung karena sebetulnya sudah menjajaki bisnis sejak 2010, tapi ada banyak teman lain yang mulai dari nol. Berbagi itu seru, nambah teman dan ilmu juga karena dalam forum kopi darat itu juga datang yang omsetnya jauh lebih besar. Persaingan ada, tapi karena market online ini sangat besar, maka peluangnya masih cukup besar dan rezeki akan datang sesuai upaya kita," ujar Ernest yang juga rutin menggagas dan mengikuti aneka forum pembelajaran sesama pedagang daring.

Ernest mengakui, bisnis digital bukan cuma istimewa karena mudah dimasuki siapapun yang ingin belajar, bahkan bisa dirintis dengan modal sangat terbatas, seperti yang terjadi pada sesama pegiat forum yang tinggal di Kabupaten Bandung yang bahkan belum paham tentang surat elektronik dan harus turun dari desanya yang berada di dataran tinggi untuk mencari sinyal. Namun, seperti bisnis lainnya, komitmen dan persistensi menjadi kuncinya. Istimewanya, bisnis ini juga didukung eksosistem yang juga terus berinovasi, termasuk pelaku digital dan sistem jasa pengiriman yang terus terpacu sesuai kencangnya roda bisnis daring.  

"Awalnya saya bermodal keliling dari satu toko makanan ke toko lainnya, sekarang kan produsen yang datang dan minta barangnya dijual. Tapi, toko kami juga tak akan bisa seperti ini tanpa kreatifitas mereka," kata Ernest yang memilih membeli kardus bekas untuk kemasan dari pemulung kampung sekitar dan membelinya per satuan, kendati lebih mahal.Pun, ia memilih berbelanja grosiran di toko tradisional, khusus untuk produk berskala pabrikan, bukan di jaringan modern, sebagai kontribusi menjaga hidup para perintis dunia perniagaan. (X-16)

BERITA TERKAIT