29 September 2019, 12:36 WIB

Upaya Kembali Menjadikan Indonesia Pionir KB di Dunia


Rosmery Sihombing | Humaniora

MI/Rosmery Sihombing
 MI/Rosmery Sihombing
Prof Siswanto di hadapan para jurnalis yang ikut pelatihan bagaimana mengangkat isu seputar KB dan kesehatan reproduksi.

APAKAH Indonesia masih berkomitmen menjadi pionir (pelopor) dalam hal keluarga berencana (KB) dan kesehatan reproduksi di dunia? Hal itu menjadi salah satu topik penting yang akan dibahas dalam The International Conference on Family planning and Reproductive Health in Indonesia (ICIFPRH) atau Konferensi Internasional mengenai Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, di Sleman, Yogyakarta.

Tema tersebut akan dibahas dalam forum debat terbuka pada hari pertama konferensi yang dimulai pada Senin (30/9).

Menurut ketua konferensi Prof dr Siswanto Agus Wilopo dari Pusat Kesehatan Reproduksi Universitas Gadjah Mada, sejak 1980-an hingga pertengahan 2000-an, Indonesia dikenal sebagai pionir dan salah satu negara yang sangat berhasil dalam program KB.

"Namun, secara perlahan, kondisi sukses tersebut semakin memudar. Indonesia semakin tidak menjadi kiblat negara lain untuk belajar dan melihat langsung pelaksanaan KB," tambahnya, usai pelatihan Media, di prakonferensi.

Baca juga: Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional KB

Peserta training internasional KB yang datang, lanjut Siswanto, juga semakin menurun.

Pada 1980-2000 bisa ratusan orang yang datang, termasuk dari Tiongkok. Namun, saat ini, paling hanya 20-30 orang yang datang untuk training.

"Untuk itu, dalam debat terbuka nanti, akan digali mengapa terjadi penurunan kinerja KB di Indonesia dan apa yang perlu dilakukan untuk kembali menguatkan program KB dan peran Indonesia dalam pembahasan-pembahasan kebijakan di level global," jelas pengajar di salah satu universitas di Dublin, Irlandia itu.

Program KB, menurutnya, sudah menjadi kebutuhan dasar bukan cuma untuk mengurangi jumlah penduduk.

Di tempat yang sama, Eddy Hasmi dari Johns Hopkins, center for communication program, juga memaparkan beberapa fakta yang menunjukkan mulai memudarnya kesuksesan program KB di Indonesia.

"Tulisan tentang KB Indonesia di jurnal Internasional baik yang ditulis oleh ahli asing maupun dari Tanah Air semakin berkurang. Indikator pelaksanaan KB di Indonesia makin banyak yang tidak sesuai dengan kesepakatan global, padahal Indonesia ikut menandatanganinya," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, tingkat kelahiran stagnant di 2,6 sampai 2015, baru mulai turun lagi pada 2017 menjadi 2,4.

Dalam debat terbuka tersebut hadir sebagai key person Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, perwakilan dari Bappenas, Kementerian Kesehatan, akademisi, pelaksana di lapangan, seperti dokter atau bidan, LSM. (OL-2)

BERITA TERKAIT