29 September 2019, 10:40 WIB

Tanta Ginting Ikuti Kata Hati


Zubaedah Hanum | Hiburan

MI/BARY FATHAHILAH
 MI/BARY FATHAHILAH
Aktor Tanta Ginting.

PEMERAN Sutan Sjahrir (Soekarno, 2013), aktor Tanta Jorekenta Ginting atau lebih dikenal dengan sebutan Tanta Ginting harus melalui perjalanan berliku sebelum benar-benar terjun ke industri hiburan di Tanah Air. Masalah utama yang harus dihadapinya ialah restu orangtua.

"Orangtua tidak mendukung dan tidak mengerti akan bisnis di dunia hiburan. Jadi, mereka selalu menolak," kisah laki-laki berusia 37 tahun itu seperti dikutip dari Medcom.id, kemarin.

Sejak usia 13 tahun, Tanta mengikuti orangtuanya yang menetap di Amerika Serikat. Di sana Tanta memilih jurusan teknik elektro karena prospek kerjanya dianggap menjanjikan. Lulus kuliah, ia pun bekerja sebagai electric engineer atau insinyur elektro di The National Aeronautics and Space (NASA).

"Gue enggak bebas cari pekerjaan. Gue cuma dapat kerjaan yang ada, tapi yang bagus di teknologi luar angkasa sama robotik di Amerika, dan gue kerja selama empat tahun. Cuma gue enggak bisa ngebohongi diri dan kata hati gue, akhirnya gue tetap jadi seniman," cerita Tanta.

Ia segera meninggalkan ladang emasnya di Amerika demi kenyamanan hidupnya. Pada 2009, Tanta Ginting menerima tawaran Daniel Mananta ikut audisi Gita Cinta The Musical. Di sini langkah pertama Tanta Ginting mulai serius di industri hiburan.

"Dari situ musikal terus, tapi sempat ke TV nge-host. Terus dapat tawaran film pertama Soekarno, ternyata dari situ titik awal mula karier gue sebagai aktor," kata Tanta.

Atas kesuksesannya memerankan Sutan Sjahrir di film itu, Tanta diganjar penghargaaan sebagai Aktor Pendatang Baru Terbaik di Piala Maya 2014 dan Pemeran Pembantu Pria Terpuji di Festival Film Bandung 2014.

 

Diteror bapak

Keputusan Tanta Ginting bertolak belakang dengan keinginan orangtua. Suami dari Denalta Eunike itu bahkan selalu diteror orangtua saat akan kembali ke Indonesia.

"Dari awal gua berantem terus, sebelum balik ke Indonesia aja berantem sama bokap, tapi nyokap menengahi dan bilang, 'Udah. Dicoba aja biar puas, tiba-tiba menyesal'. Akhirnya gua coba, setiap hari diteror sama bokap gua. Diteror aja sama bokap," cerita Tanta.

Sempat berpikir akan berkarier sebagai seniman di negeri orang, Tanta akhirnya memilih tanah kelahirannya Indonesia. Selama dua tahun pertama, Tanta merintis kariernya di bidang musik, nge-band bersama Fourwall. "Miskin gue sampai tabungan habis," ungkap Pemeran Pria Pendukung Terfavorit di Indonesia Movie Actors Awards 2016 lewat perannya di film 3: Alif Lam Mim itu.

Saat itu, penghasilan Tanta sebagai seniman dengan insinyur elektro di Amerika sangat jauh. Sebulan bekerja sebagai seniman, sama dengan penghasilan sehari Tanta di Amerika. "Bokap (bapak) marah-marah," cetus laki-laki berdarah Karo itu.

Pelan-pelan ia mencoba meraih restu orang tuanya hingga akhirnya restu itu didapat ketika dia berkesempatan main di musikal Laskar Pelangi yang mendapat respons positif hingga ke Singapura.

"Karya itu sempat dibawa ke Singapura dan berita di mana-mana positif. Bokap melihatnya gua serius dan bukan mau kabur dari kerjaan, tetapi memang kejar passion. Sampai akhirnya main film Soekarno, mereka yang akhirnya membantu promosikan karier gua. Jadi happy banget!" urainya. (H-1)

 

BERITA TERKAIT