29 September 2019, 08:20 WIB

Kedepankan Asas Praduga tidak Bersalah


Tri Subarkah | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/TimInafis
 ANTARA FOTO/TimInafis
 Personel Brimob mencari selongsong peluru saat olah tempat kejadian perkara di Jalan Abdullah Silondae, Kendari, Sulawesi Tenggara, kemarin

KEPOLISIAN menduga ada keterlibatan teroris dalam demonstrasi mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kamis (26/9).

Untuk itu, aparat korps baju cokelat akan melakukan investigasi dengan melibatkan pihak lain.

Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengingatkan masyarakat untuk tetap mengedepankan asas ­praduga tidak bersalah terkait dengan insiden tersebut.

“Kita tidak tahu apakah ada yang bermain. Apakah ada pihak ketiga yang ingin menciptakan martir untuk memicu kerusuhan lebih besar. Apabila nanti pelakunya itu aparat yang terbukti secara scientific, kami proses hukum. Tetapi, ingat kita juga harus kedepankan asas praduga tidak bersalah,” kata Iqbal saat jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (27/9).

Unjuk rasa ribuan mahasiswa dan pelajar dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Kendari, Kamis (26/9), menyebabkan dua orang meninggal dunia. Mereka ialah Randi, 21, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Halu Oleo (UHO) meninggal dunia akibat luka tembak di dada kanan sekitar pukul 15.30 Wita. Lalu, Yusuf Kardawi, 19, meninggal setelah menjalani operasi akibat luka serius di bagian kepala di RSUD Bahteramas, Jumat (27/9) sekitar pukul 04.00 Wita.

Kini, tim gabungan yang dibentuk Kapolri tengah melakukan investigasi insiden kematian dua mahasiswa dengan melibatkan Ombudsman, Komnas HAM, dan akademisi.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menambahkan, pihaknya mendalami ­dugaan ­keterlibatan kelompok teroris ­Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dalam demonstrasi yang menewaskan dua mahasiswa UHO di depan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara tersebut.

“Jadi, sebelum dia (JAD) dari Papua Barat masuk ke Jawa atau Poso mampir terlebih dulu ke Sultra. Setelah itu, baru masuk Poso dan kembali ke Jawa. Itu masih didalami, tetapi harus melalui proses pembuktian. Kelompok ini kerap memanfaatkan keramaian dengan melakukan upaya­ provokatif untuk menimbulkan kericuhan. Kami mengedepankan asas praduga tidak bersalah. Polri dalam hal menetapkan status hukum  seseorang, semuanya harus clear,” ujar Dedi.

 

Uji balistik

Komisioner Kompolnas, Poengky, berharap masyarakat bersabar dan tidak gegabah menuding polisi di balik tragedi tersebut.

“Kapolri sudah langsung ­membentuk tim untuk mengungkapnya. Sudah ada autopsi dan akan dilakukan uji balistik. Kita tunggu hasilnya,” ujarnya.

Sementara itu, kondisi Maulida Yulia Putri, 23, membaik setelah tim dokter RS  Bhayangkara Polda Sultra mengangkat proyektil yang bersarang di betis kanannya, kemarin.

Putri terkena tembakan bersamaan dengan unjuk rasa mahasiswa yang berlangsung ricuh di DPRD Sultra dan berjarak sekitar 3 kilometer dari kediamannya.

“Alhamdulillah kondisi saya sudah lebih baik,” kata Putri kepada ­sejumlah jurnalis di Kendari, kemarin.

Putri menjelaskan saat terkena peluru nyasar awalnya dia belum mengetahui. Namun, ketika berjalan dan melihat betisnya berdarah, dia pun memanggil suaminya untuk memeriksa.

Sontak Putri dan suaminya kaget ketika melihat di betis kanannya yang berdarah itu terdapat sesuatu yang janggal.

“Kaget juga setelah dioperasi ternyata proyektil. Awalnya, saya pikir seperti kesemutan saja, hanya berdarah,” imbuhnya. (Fer/Cah/TB/MT/X-3)A

BERITA TERKAIT