29 September 2019, 01:30 WIB

Modifikasi Tenun Sundawa


Fetry Wuryasti | Weekend

PRINGGASELA, demikian tajuk yang dipilih Denny Wirawan untuk koleksi terbarunya yang diperagakan di Jakarta, Rabu (25/9). Nama tersebut diambil dari nama sebuah desa di Lombok Timur, Nusa Teng­gara Barat, tempat masyarakatnya yang hidup selaras dengan alam serta menjaga warisan budaya leluhur berupa Wastra Tenun Sundawa.

Sesuai latar inspirasi itu, Denny pun mengangkat keindahan tenun dengan motif khas tersebut. Ada sekitar 48 set penampilan busana (look) siap pakai yang dibuat Denny Wirawan.

Palet pastel pucat mendominasi koleksi itu sementara potongan busananya berupa busana-busanan koktail yang elegan, mewah, juga feminin. Contohnya tunik, blus panjang dengan detail lipit tumpuk, ataupun blus blazer dengan lengan balon berpita. Pada artikel fesyen itu ia banyak menggunakan bahan transparan sehingga memberi kesan seksi.

Pada beberapa set busana, ia memadankannya dengan outer panjang tanpa lengan maupun blazer-jaket. Untuk padanan bawahnya ada celana kapri dan juga celana palazzo dengan bahan mengilap.

Denny yang didukung Bhakti Budaya Foundation dan BCA untuk koleksi tersebut menjelaskan jika sengaja memadukan tenun dengan kain katun polos, thaisilk, bahan organza sebagai atasan, hingga tile untuk lapisan luar rok.

“Semua tenun Sundawa berbahan katun saya kombinasikan dengan bahan thaisilk supaya ada sentuhan lebih indah. Umumnya tekstur tenun asli itu tebal dan kasar. Sementara itu, saya ingin ada tampilan tenun lebih mewah. Tidak hanya digunakan sehari-hari, tetapi juga untuk acara cocktail dinner dan lainnya,” jelas Denny.

Motifnya pun diimprovisasi dari sekadar garis lurus dan horizontal, ciri khas tenun Sundawa, menjadi berbagai bentuk, baik diagonal hingga ditata menjadi bentuk tertentu dengan dasar dari garis horizontal.

Sementara itu, untuk koleksi pria, Denny menjelaskan jika kesan tenun yang kaku justru menguatkan citra maskulin. Sebab itu pula tenun Sundawa tersebut dirasanya sangat pas sebagai celana karena agak tebal dan membentuk. “Tapi untuk beberapa lainnya, seperti outer wanita, saya tidak mau tenun utuh karena kalau asli buatan tangan hanya lebarnya hanya 60 cm sulit sulit untuk menjadi satu pakaian. Supaya aman saya campur kain polos,” tuturnya.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, menjelaskan jika tenun Sundawa lebih daripada selembar kain. Tenun itu mengandung filosofi dan tradisi menawan. Dalam budaya Lombok Timur, seorang gadis harus membuat sebuah tenunan untuk calon suaminya dan juga bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup. “Untuk menghasilkan selembar kain membutuhkan proses yang panjang. Untuk itu perlu diangkat ke panggung fesyen agar semakin dapat dicintai dan menjadi tuan rumah di negara sendiri,” tambahnya.

New York

Koleksi mewah yang menarik juga datang dari Julianto. Koleksi yang diperagakan di The Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta, Selasa (24/9) itu berupa busana-busana koktail dengan kekuat­an teknik 3D.

Koleksi yang sebelumnya telah diperagakan di New York Fashion Week awal bulan ini, di antaranya terdiri atas gaun a-line dengan detail kelo­pak bunga mawar dengan teknik 3D, jumpsuit hitam yang penuh rumbai, hingga bustier dengan sedikit peplum di bagian belakang pinggang.

Julianto menjelaskan jika detail bunga mawar yang bermekaran mirip merupakan representasi logo dari lini utamanya, Mojuya. De­sainer lulusan Istituto di Moda Burgo, Milan, Italia, ini menjelaskan jika desainnya terinspirasi dari gaya busana warga New York, yang dinamis dan juga sangat melek tren busana. (Wan/M-1)

BERITA TERKAIT