26 September 2019, 10:32 WIB

Pembangunan Stadion BMW, Jakpro Konsultasi Ke Kejaksaan Tinggi


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

PT Jakarta Propertindo (Jakpro) menegaskan tetap melanjutkan pembangunan Stadion BMW atau Jakarta International Stadium (JIS).

Dalam pembangunan stadion pengganti Stadion Lebak Bulus itu, Jakpro menjelaskan telah berkonsultasi dengan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta saat memulai hingga selesai melakukan tender.

Direktur Proyek JIS PT Jakpro Iwan Takwin mengatakan pelibatan Kejati DKI diwajibkan karena proyek JIS merupakan proyek strategis. Proyek ini dikawal oleh Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejati.

"Kami sudah konsultasikan ke Kejati. Di sana ada TP4D yang mengawal penuh karena ini proyek strategis. Bahkan sebelum mulai tender kami presentasikan di sana. Sudah selesai pun kami presentasikan," ungkap Iwan di Jakarta, Rabu (25/9).

Dalam melakukan lelang proyek JIS, Jakpro berpegang pada kualitas tinggi yang harus sesuai dengan standar organisasi induk sepak bola dunia, FIFA.

Untuk itu, segala proses lelang pun Jakpro juga mengandalkan dua bidang konsultan yakni yakni manajemen konstitusi (MK) dan quality surveyor (QS).

Seluruh perhitungan baik teknis maupun harga dilakukan Jakpro bersama-sama dengan konsultan itu. Hal itu untuk menjaga kualitas hasil proyek agar sesuai dengan standar yang diajukan oleh FIFA.

"Ini kita tidak main-main dalam proyek ini karena yang dikedepankan adalah menjaga kualitas. Bagaimana kita menjaga kualitas yang terutama disyaratkan oleh FIFA," tegas IWan.

Iwan turut menjelaskan dalam penilaian tender, sisi teknis mendapat 70% penilaian sementara harga hanya 30%.

"Dari sisi teknis ketika dua konsorsium kontraktor ini disandingkan, konsultan kami pun sudah membuka semua proposal penawarannya transparan. Lalu keluarlah nilai. Kemudian ada harga. Harga tentunya memengaruhi kualitas. Kemudian kedua sisi itu diakumulasi dan keluarlah nilai total yang dimenangkan oleh konsorsium Wika Gedung," ujar Iwan.

Menurutnya, meski nilai tender yang ditawarkan konsorsium Adhi Karya lebih murah yakni Rp3,8 triliun jika dibandingkan konsorsium Wika Gedung Rp4,08 triliun, konsultan dan Jakpro telah bersama-sama menetapkan harga kewajaran.

"Jadi tidak bisa di bawah nilai itu juga karena nantinya akan ada pengaruh pada kualitas. Sementara kita ini dikawal terus oleh FIFA supaya sesuai standar," tegasnya.

Hal inilah yang kemudian membuat Jakpro memilih konsorsium Wika Gedung untuk menggarap proyek JIS yang memiliki pagu anggaran Rp4,5 triliun.

Sebelumnya, tender JIS dinilai bermasalah karena adanya aduan dari PT Adhi Karya karena kalah tender padahal memiliki nilai penawaran lebih murah.

Adhi Karya menyebut ada kejanggalan dari tender itu dan mengadukan persoalan ini ke Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU).(put)

BERITA TERKAIT