24 September 2019, 16:37 WIB

30 Perusahaan Global Gabung Program STOP Tangani Sampah Plastik


Dwi Tupani | Humaniora

MI/AGUS MULYAWAN
 MI/AGUS MULYAWAN
 Petugas kebersihan membersihkan sampah plastik yang terbawa air laut di Pantai Kuta, Bali, beberapa waktu lalu.

ALLIANCE to End Plastic Waste (AEPW) mengumumkan kerja samanya dengan Program STOP untuk memperluas pengembangan solusi-solusi pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan dan sirkular di Indonesia. 

Melalui Program STOP, AEPW bertujuan untuk secara drastis meningkatkan pengumpulan sampah dan memperkenalkan layanan pengumpulan sampah ke rumah tangga untuk pertama kalinya, menciptakan pekerjaan tetap di bidang pengelolaan sampah setempat, serta membersihkan area-area yang telah dipenuhi oleh sampah plastik.

Kolaborasi AEPW bersama Program STOP selama tiga tahun ini akan berfokus di Kabupaten Jembrana yang berlokasi di pantai barat laut Bali. 

“AEPW berfokus pada area-area di mana kebutuhan akan perbaikan pengelolaan sampah plastiknya sangat mendesak serta dimana perusahaan anggota kami di seluruh rantai nilai plastik dapat menawarkan keahlian teknis dan bisnis,” ujar David Tailor, Ketua Dewan, Presiden, CEO Procter & Gamble (P&G) dan Ketua AEPW seperti dilansir keterangan resmi, Selasa (24/9).

Oleh karena itu, kata dia, Program STOP sangat cocok dengan strategi AEPW yang berfokus pada empat pilar yaitu, infrastruktur, inovasi, pendidikan, dan pembersihan. 

"Di Kabupaten Jembrana, kami memiliki peluang untuk bekerja dengan komunitas lokal dalam membangun infrastruktur baru untuk mengelola dan mendaur ulang sampah untuk mencegah kebocoran sampah plastik ke lingkungan," tambahnya. 

AEPW akan mendukung studi kelayakan untuk mewujudkan masa depan yang bebas dari sampah plastik yang selama ini tidak terkelola dengan baik, melakukan assessment mengenai bagaimana cara memperluas pendekatan tersebut, serta memberikan dukungan finansial dan keahlian teknis.

“Kami bangga menyambut Alliance to End Plastic Waste (AEPW) sebagai mitra strategis kami di Program STOP mengingat kami memiliki komitmen yang sama untuk mengatasi tantangan terbesar di tingkat global, yaitu untuk menghentikan pembuangan plastik ke lingkungan,” kata CEO dari Borealis, Co-Founder dari Program STOP, Alfred Stern. 

“Plastik secara fleksibel dapat digunakan dan didaur ulang kembali menjadi sebuah produk baru dan kita perlu mengembangkan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan dengan model ekonomi sirkular guna mendukung pengembangan sosial-ekonomi masyarakat di wilayah ini."

Baca juga: Label Plastik Bekas Didaur Ulang Jadi Palet

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa setiap tahunnya, 33.000 ton sampah plastik dari Pulau Bali bocor ke laut. Tantangan terbesar dari masalah ini adalah kurangnya layanan pengelolaan sampah yang tepat untuk mencegah rumah tangga dan pelaku usaha untuk membakar sampah secara terbuka atau membuangnya ke lingkungan. 

Menghentikan kebocoran sampah plastik ke lingkungan laut sangatlah penting, terutama untuk mepertahankan industri pariwisata yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Kabupaten Jembrana diperkirakan menyumbang sekitar 13.200 ton per tahun sampah plastik ke lingkungan, akibat dari besarnya jumlah populasi serta kurangnya infrastruktur pengelolaan sampah dan daur ulang. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jembrana, I Wayan Sudiarta, SP mengatakan pihaknya berterima kasih dan sangat mendukung Kabupaten Jembrana dipilih sebagai tempat pelaksanaan Program STOP. 

"Semoga dengan kehadirian program ini, dapat mengedukasi dan mengubah perilaku masyarakat dalam memilah dan membuang sampah pada tempatnya,” tuturnya.

Diluncurkan pada 2017, Program STOP merupakan sebuah inisiatif yang didirikan oleh Borealis dan SYSTEMIQ untuk merancang, mengimplementasikan, dan meningkatkan skala solusi ekonomi sirkular untuk mencegah polusi plastik di Asia Tenggara. (RO/A-4)

BERITA TERKAIT