23 September 2019, 17:18 WIB

Pertamina Pastikan Kebocoran Minyak Dikunci Permanen 1 Oktober


Atalya Puspa | Ekonomi

PERTAMINA Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) memastikan pada 1 Oktober 2019 mendatang, pihaknya akan berhasil mengunci secara permanen sumur YYA-1.

"Estimasi jam 10 pagi tanggal 1 Oktober 2019 itu sudah disemen dan terkunci. Ini estimasi tim kami. Tapi bisa jadi lebih cepat," kata Ketua Tim Proyek YYA-1 Taufik Adityawarman di Kantor Pertamina, Jakarta Pusat, Senin (23/9).

Ia menyatakan, sampai saat ini PHE ONWJ telah mencapai milestone baru dalam penanganan sumur YYA-1 yaitu dengan keberhasilan proses "intercept", yaitu sumur Relief Well telah berhasil terkoneksi dengan Sumur YYA -1 per Sabtu 21 September 2019 pukul 10.30 WIB.

Relief Well adalah proses mematikan sumur YYA-1 dengan pengeboran dari samping yang dilakukan dari Rig Soehanah yang berjarak 1 km dari sumur YYA-1.

Proses koneksi antar sumur ini berhasil dilakukan dengan baik dan lebih cepat dibandingkan estimasi jadwal waktu yang direncanakan yaitu pada akhir September 2019.

Taufik menyampaikan bahwa suksesnya mengkoneksikan antar sumur ini adalah sebuah tahapan penting dalam upaya mematikan sumur YYA-1.

“Dengan terkoneksinya dua sumur ini, maka saat ini kami dalam posisi telah dapat mengendalikan sumur YYA-1," ucapnya.

Baca juga: Pertamina Targetkan Tutup Kebocoran Oktober

Lebih lanjut Taufik menambahkan, langkah selanjutnya adalah dilakukan proses “Dynamic Killing” dengan memompakan lumpur berat untuk melawan tekanan dalam sumur YYA-1, sehingga tercapai keseimbangan dan menyetop aliran minyak dan gas dari sumur tersebut.

Beberapa waktu ke depan pihaknya masih akan monitoring untuk memastikan kestabilan sumur dan memastikan tidak ada fluida yang keluar dari sumur YYA-1. Bila kondisi dinyatakan stabil maka akan dilakukan tahap selanjutnya yaitu pemompaan semen untuk proses mematikan sumur YYA-1 secara permanen.

Hingga 22 September 2019, Taufik merinci pihaknya telah mengumpulkan sebanyak 42.034 barel yang berisi 6.683.428 liter oil spill dari laut, dan sebanyak 5.747.572 karung oil spill di darat.

"Tapi itu tidak 100% minyak karena ada campuran air dari laut, dan kalau di darat ada campuran pasir. Dan itu masih dalam penelitian oleh KLHK apakah minyak tersebut masih bisa dimanfaatkan atau tidak," katanya.

Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Dharmawan Samsu menyatakan, setelah sumur YYA-1 berhasil ditutup secara permanen, pihaknya akan berfokus pada pemulihan lingkungan.

Dirinya menyebut, pihaknya menarget untuk merampungkan proses pemulihan lingkungan terhadap wilayah yang terdampak tumpahan minyak pada Maret 2020 mendatang.

"Dengan selesainya 1 oktober, fokus pemulihan lingkungan akan lebih ditingkatkan. Kita membutuhkan kerja sama antara masyarakat, kementerian terkait untuk revitalisasi lingkungan, sarana umum dan tetap menjaga ekosistem mangrove atau bakau sampai sama seperti awal sebelum terkena tumpahan minyak," tuturnya. (A-4)

BERITA TERKAIT