23 September 2019, 15:44 WIB

Trump dan Modi Berjanji Perangi Terorisme


Melalusa Sushtira Khalida | Internasional

AFP/Thomas B Shea
 AFP/Thomas B Shea
Presiden AS Donald trump bersama Perdana Menteri India Narendra Modi di Texas, Amerika Serikat

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi mengeluarkan pernyataan bersama untuk berjuang tanpa henti memerangi terorisme.

Deklarasi tersebut disampaikan di hadapan puluhan ribu orang AS keturunan India di stadion NRG Houston, Texas, Minggu (22/9).

Kedatangan Trump dan Modi lantas disambut dengan sorak sorai kerumunan pengunjung acara “Howdy, Modi!” yang diperkirakan mencapai 50.000 orang. Kedua pemimpin negara tersebut saling melemparkan pujian dan dukungan atas kebijakan pemerintahannya masing-masing.

Trump kemudian mendapat riuhan tepuk tangan ketika ia mengatakan kepada khalayak, bahwa banyak yang mengenakan safron khas Bharatiya Janata, partai PM Modi.

"Kami berkomitmen untuk melindungi warga sipil tak berdosa dari ancaman terorisme radikal," ujar Trump.

Baca juga : Drone Hantam Kilang Minyak Aramco, AS Tuduh Iran Pelakunya

Trump telah mendukung Modi terkait sejumlah pengambilan keputusan kontroversialnya tahun ini, termasuk pencabutan otonomi khusus wilayah Kashmir yang dipersengketakan dengan Paskistan dan perintahnya agar jet tempur India memasuki wilayah Pakistan sebagai tanggapan atas bom bunuh diri.

Modi dalam pidatonya mengatakan dirinya berusaha mencari kesetaraan status dan pengembangan untuk Kashmir, yang mungkin menyebabkan ketidaknyamanan bagi sejumlah orang yang tidak dapat mengelola negaranya dan mereka yang memelihara terorisme.

Sementara itu, Trump menonton di barisan depan untuk mendengarkan terjemahannya.

"Orang-orang ini menaruh kebenciannya pada India sebagai pusat dariagenda politik mereka," tukas Modi.

India juga menghadapi kritik keras dari para pakar HAM karena menutup seluruh akses komunikasi seluler dan internet di sebagian besar wilayah Kashmir.

Wilayah yang dipersengketakan dengan Pakistan tersebut, dinilai Modi berusaha dikendalikan oleh Pakistan dengan mendapatkan perhatian internasional atas wilayah Himalaya.

Di luar stadion, sekelompok orang pengunjuk rasa dengan membawa poster dan kemeja yang bertuliskan "Bebaskan Kashmir" dan menuduh Modi telah melanggar kebebasan beragama.

Acara ini disebut sebagai pertemuan terbesar oleh pemimpin asing selain kedatangan Paus di Amerika Serikat. Penyelenggara acara juga turut mengundang perwakilan dari Partai Demokrat.

Orang nomor dua Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS, Steny Hoyer, berjanji bahwa baik Partai Demokrat dan Republik menginginkan hubungan yang lebih baik dengan India, namun dengan lembut ia juga menyuarakan keprihatinannya.

Mengutip Mahatma Gandhi, Hoyer menunjuk penghormatan terhadap sekularisme dan hak asasi manusia sebagai nilai dasar demokrasi terbesar di dunia.

"Orang Amerika dan India harus berusaha untuk membuat janji dan aspirasi kami menjadi kenyataan bagi semua warga negara kami," ujar Hoyer, dengan Modi di sampingnya.

Sebelumnya, komunitas Amerika keturunan India mayoritas memilih Hillary Clinton dari Partai Demokrat pada Pemilu AS 2016 lalu.

Baca juga : Indonesia Sambut Komitmen India Samakan Tarif Bea Masuk Sawit

Salah satu warga Amerika keturunan India, Bhavin Parikh, mengatakan ia dan istrinya mengikuti acara tersebut guna menunjukkan dukungan mereka kepada Modi.

Ia juga menyebut pertemuan itu bersejarah karena kehadiran Trump, namun tidak setuju apakah pertemuan itu menujukan bentuk dukungan untuk Trump.

"Ini bukan masalah Demokrat atau Republik. Ini adalah presiden Amerika yang mendukung perdana menteri India," tukas Bhavin.

Trump pun tidak menyebut kekhawatiran banyak orang Amerika keturunan India atas kebijakan visa AS,

ia justru menyoroti upayanya untuk mengembalikan imigran tak berdokumen dari Amerika Tengah. Trump juga menyampaikan kecintaannya kepada orang Amerika keturunan India yang menurutnya telah ikut memperkaya budaya Amerika. (AFP/OL-7)

BERITA TERKAIT