22 September 2019, 12:00 WIB

Pilkada 2020, Golkar Cianjur Tunggu Perintah DPP


Benny Bastiandy | Nusantara

MI/Denny Susanto
 MI/Denny Susanto
Lambang Golkar

PARTAI Golkar Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, masih menunggu titah DPP menghadapi kontestasi Pilkada 2020. Artinya, sampai saat ini partai berlambang pohon beringin itu belum bersikap menentukan figur yang bakal maju untuk berkontestasi pada pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

"Sikap formal, Golkar masih menunggu juklak dan juknis dari DPP. Jadi, DPP itu baru sampai pada pemetaan terhadap kabupaten, kota, dan provinsi yang akan menggelar pilkada serentak," terang Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Cianjur, Tb Mulyana Sjahruddin

Selama pemetaan itu, kata dia, DPP akan melihat potensi dengan prioritas kader internal partai yang nanti bakal direkomendasikan maju.

Sejumlah nama pun bermunculan. Namun Mulyana belum mau membuka siapa nama-nama yang sudah terpetakan itu.

"Nah, itu nanti akan dikombinasikan. Tahapannya juga masih lama. Masih ada waktu. Bisa jadi di awal tahun," terang Mulyana.

Baca juga : Golkar Perlu Pemimpin Berkarakter Urban

Ia menyadari Golkar tak bisa mengusung pasangan calon sendiri karena memiliki 8 kursi di parlemen. Karena itu, Golkar butuh koalisi dengan partai lainnya.

"Sudah, sudah. Dengan seluruh parpol, itu sudah mulai pembicaraan pembicaraan ke arah koalisi. Golkar kan mutlak harus koalisi," ujarnya.

Mulyana berprinsip, koalisi itu sebetulnya tidak berhitung soal jumlah kursi minimal sebagai syarat mencalonkan. Dalihnya, koalisi merupakan suatu kebutuhan untuk berkontestasi pada panggung pasangan calon yang diusung masing-masing partai.

"Koalisi itu kan supaya kekuatannya bertambah," jelas Mulyana.

Pada Pilkada Kabupaten Cianjur 2015 lalu, Golkar yang berkoalisi dengan PBB dan PKB mengusung pasangan Irvan Rivano Muchtar dan Herman Suherman. Pasangan berjargon Beriman itu pun memenangkan kontestasi Pilkada 2015.

Sekarang, Herman Suherman yang merupakan Plt Bupati Cianjur itu mulai 'berpaling' ke partai lain. Pada Rabu (18/9) malam, Herman mendaftarkan diri sebagai bakal calon ke PDI Perjuangan. Mulyana menanggapi santai kondisi tersebut.

"Pak Herman (Suherman) itu masih kader Golkar. Ber-KTA Golkar. Gini, tidak mungkin seseorang itu beranggota dobel di partai A dan partai B. Tidak mungkin. Jadi, harus ada yang ditanggalkan," kata dia.

Kalaupun nanti Herman berpindah haluan menjadi kader PDI Perjuangan, menurut Mulyana, Golkar memiliki prinsip namanya PDLT yakni prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela. Selain itu tentunya calon yang bakal dimunculkan harus memiliki popularitas dan elektabilitas.

"Prioritas calon yang bakal diusung itu kader. Kalau misalnya kader tidak memenuhi batas passing grade, maka akan bergeser ke nonkader," pungkasnya.

Sekretaris DPC Partai Demokrat Kabupaten Cianjur, Denny Aditya, mengatakan selama ini memiliki kedekatan dengan Partai Golkar.

Pernyataan Denny itu setidaknya bisa jadi terbukanya peluang kedua partai tersebut berkoalisi pada Pilkada 2020 nanti.

"Chemistry-nya sudah ada. Pengalaman koalisi juga pernah, seperti pada Pilgub Jabar 2018 lalu. Alhamdulillah, berkoalisi dengan Golkar bisa mendongkrak suara cukup signifikan saat Pilgub," kata Denny.

Namun, jelas dia, politik itu dinamis. Apalagi menjelang perhelatan Pilkada 2020 nanti, dinamisasinya bakal terasa lebih kental.

"Bagi kami sih one ticket one goal (satu tiket satu tujuan) menghadapi Pilkada nanti," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT