20 September 2019, 23:30 WIB

Korban Erupsi Menanti Bantuan


Depi Gunawan | Nusantara

MI/Depi Gunawan
 MI/Depi Gunawan
Taman  wisata alam Gunung Tangkuban Parahu

TAMAN wisata alam Gunung Tangkuban Parahu sudah hampir dua bulan ditutup dan tidak bisa dikunjungi wisatawan karena terus mengalami erupsi.

Hal itu berdampak signifikan terhadap warga sekitar yang mengandalkan sumber pendapatan dari aktivitas wisata di area Tangkuban Parahu.

Kelompok masyarakat sekitar Tangkuban Parahu yang paling terkena dampak ialah para pedagang. Kepala Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Jajang Ruhiat, mengatakan, sejak area wisata Tangkuban Parahu ditutup pascaerupsi, otomatis penghasilan para pedagang turun drastis.

“Sekarang, pedagang yang biasa berjualan di Tangkuban Parahu tidak punya pemasuk-an lagi, karena kondisi gunung yang tidak menentu. Ada pedagang yang pindah berjualan ke Orchid Forest, Grafika, dan tempat wisata lainnya,” kata Jajang, kemarin.

Namun, sebagian di antara mereka memilih tidak berjualan. Akibatnya, kata Jajang, mereka terpaksa menjual berbagai harta benda, seperti motor, televisi, hingga menggadaikan surat tanah untuk menyambung hidup keluarga.

Di sisi lain, untuk meringankan beban hidup para pedagang, pemerintah desa telah mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Bandung Barat agar para pedagang tersebut diberikan bantuan.

“Beberapa waktu lalu kami sudah rapat dengan bupati untuk membahas pemberian bantuan ala kadarnya kepada para pedagang yang selama ini tidak bisa berjualan di area wisata Tangkuban Parahu,” ungkapnya.

Dari upaya itu, menurut Jajang, bupati merespons dengan baik usulan-usulan pemerintah desa dan menyatakan siap membagikan bantuan sembako untuk 1.500 pedagang asal Desa Cikole.

Saat ini, seraya menunggu waktu penyaluran bantuan, kata Jajang, pihaknya terus mendata para pedagang yang berhak menerima bantuan tersebut.
 
“Kami kumpulkan KTP serta kartu atau lisensi pedagang sebagai dasar untuk mendapatkan bantuan. Kami yakin, proses itu tidak akan lama sehingga bantuan bisa segera disalurkan,” tuturnya.


Lebih lama

Sementara itu, berkaca pada kejadian erupsi pada 2013, menurut Jajang,  ribuan pedagang saat itu mendapatkan bantuan berupa sembako. Pemerintah daerah (pemda) turun membagi-bagikan beras dan minyak goreng.

Selain pemda, bantuan berupa uang tunai Rp150 ribu juga mengalir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Berdasarkan hal itu, lanjut Jajang, karena erupsi kali ini lebih lama jika dibandingkan dengan  peritiwa di 2013,  sudah selayaknya para pedagang korban erupsi diberikan bantuan.

Untuk memotivasi, Jajang meminta para pedagang tetap bersabar dan menunggu kondisi Tangkuban Parahu kembali normal, meski mereka sudah lama menganggur.

Selain itu, dia berharap agar para pedagang diberikan pelatihan evakuasi bencana serta bantuan fasilitas lainnya.  

“Menurut kabar terbaru, ­tremor Tangkuban Parahu terus menurun, tetapi ­masyarakat harus tetap tenang, tunggu ­instruksi dari pihak berwenang,” tukas Jajang. (N-3)

BERITA TERKAIT