18 September 2019, 20:03 WIB

KPK Segera Periksa Imam Nahrawi


Dhika kusuma winata | Politik dan Hukum

Dok. MI
 Dok. MI
Imam Nahrawi

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) segera memeriksa Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi seusai ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap dana hibah KONI tahun anggaran 2018. Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan, penyidik sudah menyiapkan surat pemanggilan terhadap politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKN) itu.

"Segera (pemanggilan). Nanti penyidik yang akan memeriksa," kata Alex di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (18/9).

Hari ini, komisi antirasywah rmenetapkan Imam sebagai tersangka kasus suap (comittment fee) pengurusan proposal dana hibah KONI. Selain itu, KPK juga menduga Imam menerima uang terkait dengan jabatannya sebagai Ketua Dewan Pengarah Satlak Prima dan penerimaan lain yang berhubungan dengan jabatannya selaku Menpora.

"Total dugaan penerimaannya Rp26,5 miliar. Uang tersebut diduga untuk kepentingan pribadi Menpora dan pihak terkait lainnya," ucap Alexander.

Baca juga: Imam Nahrawi Miliki Harta Kekayaan Rp22,6 Miliar

Sebelumnya, Imam sudah tiga kali dipanggil KPK sebagai saksi dalam proses penyelidikan, tetapi tidak memenuhi panggilan penyidik. Tiga pemanggilan itu dilayangkan pada 31 Juli 2019, 2 Agustus 2019, dan 21 Agustus 2019.

"KPK memandang telah memberikan ruang yang cukup bagi yang bersangkutan untuk memberikan keterangan dan klarifikasi," imbuh Alexander.

Penetapan tersangka itu merupakan pengembangan dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK sebelumnya. KPK juga menetapkan asisten pribadi Imam, Miftahul Ulum sebagai tersangka dan telah ditahan di Rutan KPK.

KPK total menjerat tujuh tersangka dalam kasus itu. Selain Imam dan Miftahul, lima tersangka lainnya yakni Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Mulyana, Pejabat Pembuat Komitmen Kemenpora Adhi Purnomo, staf Kemenpora Eko Triyanto, Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy, dan Bendahara KONI Jhonny E Awuy.

Ending telah divonis 2 tahun 8 bulan penjara dan Johnny divonis 1 tahun 8 bulan penjara. Sementara itu, Mulyana divonis 4 tahun 6 bulan penjara. Adapun Adhi Purnomo dan Eko divonis 4 tahun penjara. (OL-8)

BERITA TERKAIT