18 September 2019, 20:00 WIB

Kemenkes Ungkap Kandungan Berbahaya Vape


Rifaldi Putra Irianto | Humaniora

Ist
 Ist
Vape

DIREKTUR Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, menyebutkan penggunaan rokok elektronik (e-cigarette/vape) memiliki dampak buruk terhadap kesehatan.

"Dampak rokok elektronik terhadap kesehatan berkaitan erat dengan pajanan terhadap kandungan bahan pada cairan (e-liquid) dan aerosol (uap) rokok elektronik," kata Anung dalam keterangan resminya, Jakarta, Rabu (18/9).

Dikatakannya, bahan kandungan yang terdapat pada liquid tersebut antara lain, nikotin, propylene glycol, hingga glycerin.

Secara kimiawi, nikotin merupakan senyawa organik kelompok alkaloid. Yang dihasilkan secara alami dari berbagai macam tumbuhan, seperti suku terung-terungan (solanaceae), seperti tembakau, nikotin juga memiliki senyawa yang bersifat toksik sangat kuat dan kompleks.

"Nikotin telah terbukti memiliki efek buruk pada proses reproduksi, berat badan janin dan perkembangan janin. Efek kronis yang berhubungan antara lain kanker paru-paru, emfisema, hingga penyakit jantung," jelasnya.

Anung memaparkan, hasil studi di Prancis yang mengevaluasi kandungan nikotin dari label rokok elektronik, dilakukan uji terhadap 20 sampel katrid, lalu ditemukan bahwa umumnya kandungan nikotin yang sebenarnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang tercantum di label, bahkan ditemukan beberapa kasus kandungan nikotin dua sampai dengan lima kali lebih besar.

"Fakta-fakta inkonsistensi kadar nikotin dalam katrid rokok elektronik di atas, tentu sangat mengkhawatirkan karena apabila terjadi paparan kadar nikotin yang berlebihan maka dapat menyebabkan efek yang serius," ucapnya.


Baca juga: Bersama KLHK, Bea Cukai Kembalikan Impor Limbah B3 ke Negara Asal


Selain nikotin, rokok elektronik juga mengandung propylene glycol dan glycerin. Propylene glycol ialah bahan kimia yang dapat ditemukan dalam kepulan asap buatan yang biasanya dibuat dengan fog machine pada acara-acara panggung teatrikal, atau juga digunakan sebagai antifrezee dan zat aditif pada makanan.

Sementara glycerine banyak digunakan oleh industri makanan, kosmetik dan farmasi, karena memiliki banyak fungsi seperti humektan (menyerap kelembaban) dan untuk meningkatkan kelancaran dan pelumasan.

"Paparan asap buatan ini dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan secara akut dan kronis seperti asma, sesak dada, penurunan fungsi paru-paru, iritasi pernapasan, dan obstruksi jalan pernapasan, " ucapnya.

Salah satu daya tarik dari rokok elektronik adalah variasi berbagai pilihan rasa dan aroma yang tersedia, mulai dari rasa buah-buahan, berbagai jenis minuman, mint, mentol, rokok konvensional, bahkan mother’s milk juga tersedia.

"Perisa (flavoring) dalam rokok elektronik informasi lebih lanjut komposisi atau sumber aditif dari bahan tersebut tidak dilaporkan secara jelas oleh produsen. Sehingga belum teruji secara ilmiah, " sebutnya.

"Selain itu karena flavoring ini tidak dikonsumsi langsung dengan ditelan, melainkan dengan proses dipanaskan lalu diuapkan selanjutnya diinhalasi sampai ke paru-paru, ketika diinhalasi dapat berpotensi menyebabkan penyakit hati yang sangat serius," imbuhnya.

Kendati demikian saat disinggung mengenai temuan korban menurut data Kemenkes, Anung mengatakan hingga saat ini belum ada data spesifik mengenai hal tersebut. (OL-1)

BERITA TERKAIT