18 September 2019, 15:46 WIB

Demonstrasi Berkepanjangan, Ekonomi Hong Kong Karut Marut


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP/Philip Fong
 AFP/Philip Fong
Tampak para demonstran berunjuk rasa, sementara pengunjung sebuah restoran duduk di Distrik Wang Chai, Hong Kong, Minggu (15/9).

UNJUK rasa pro-demokrasi yang telah berlangsung selama empat bulan, menyebabkan Hong Kong harus memikul biaya besar yang berdampak pada perekonomian. Industri pariwisata Hong Kong mengalami kemerosotan dan bisnis-bisnis terpaksa memberhentikan para pekerjanya.

Di antara daerah yang paling terpukul adalah Causeway Bay, pusat komersial yang biasanya ramai dengan sejumlah merek mewah, justru pada akhir pekan lalu pembeli dan orang-orang yang berada di sekitarnya harus terdampak saat polisi menembakkan gas air mata ke arah para pengunjuk rasa yang bermasker anti-gas air mata.

Seorang apoteker, dengan nama marga Chiu, mengatakan bahwa pelanggan luar negeri yang menyumbang setengah dari penjualannya telah berkurang sejak demonstrasi yang dimulai pada Juni itu. Ia mengaku pendapatannya telah turun hingga 40-50%.

"Suasana sosialnya tidak baik. Pelanggan lokal juga tampaknya membeli lebih sedikit," ujarnya kepada AFP.

Chiu mengungkapkan telah berulang kali terpaksa harus menutup tokonya ketika tabung gas air mata melambung di jalanan.

Ia pun mengaku usahanya kali ini bernasib lebih buruk dibandingkan ketika Gerakan Payung 2014 yang membuat aktivitas kota terhenti setelah blokade jalan selama berbulan-bulan.

Di sisi yang lain, manajer sebuah toko arloji yang memilki nama marga Wong mengaku dirinya terpaksa untuk memberhentikan setengah dari tenaga kerjanya sejak lebih dari satu juta orang turun ke jalan menentang penerapan Undang-Undang Ekstradisi pada Juni lalu.

"Anda dapat melihat jika Anda menyusuri jalan-jalan, beberapa toko arloji telah tutup. Saya pesimistis, saya tidak tahu apakah (usaha) kami dapat selamat hingga melewati tahun baru," tuturnya.

Adapun terkait pariwisata, Sekretaris Keuangan Hong Kong Paul Chan mengungkapkan kedatang turis tahun ini turun 40 % pada bulan lalu, yang diakibatkan anjloknya pengunjung dari Tiongkok daratan.

Hal tersebut terjadi setelah kecaman-kecaman Tiongkok daratan yang menyamakan kerusuhan di Hong Kong dengan aksi terorisme. Tingkat hunian hotel pun turun sekitar 50% yang sangat berpengaruh terhadap sektor ritel dan restoran.

"Sangat mengkhawatirkan bahwa sejauh ini tidak ada tanda-tanda perbaikan dalam waktu dekat," tulis Chan dalam sebuah unggahan blog.

Sorotan gambar-gambar di seluruh dunia yang memperlihatkan demonstran berpakaian hitam melawan polisi di jalan-jalan Hong Kong yang biasanya dipenuhi pembeli, telah mengakibatkan para wisatawan menghindari pusat keuangan.

Pengunjuk rasa dan pemerintah pun tidak menunjukkan tanda-tanda mundur, dan dikhawatiran situasi Hong Kong tak kunjung membaik dalam waktu dekat.

Menurut data pemerintah, kemerosotan wisatawan Hong Kong pada Agustus lalu bahkan merupakan penurunan wisatawan terbesar sejak epidemi SARS tahun 2003 yang pernah melanda Hong Kong, di mana hampir 300 nyawa hilang sehingga kepanikan meluas di Hong Kong. (AFP/OL-09)

BERITA TERKAIT