18 September 2019, 11:32 WIB

80 Ha Kawasan Konservasi Orangutan BOSF Kalteng Terbakar


Surya Sriyanti | Nusantara

AFP/Borneo Orangutan Survival Foundation
 AFP/Borneo Orangutan Survival Foundation
Kabut asap tebal di Kalimantan Tengah membahayakan kesehatan 355 orangutan di Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng

SELUAS 80 hektare (Ha) areal hutan yang merupakan wilayah kerja konservasi milik Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) terbakar. Areal tersebut berada di Daerah Sei Daha dekat Pusat Penelitian Tuanan dan 60 hektare di Sei Mantangai, keduanya di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

"Tim kami di Program Konservasi Mawas bekerja sama dengan masyarakat sekitar dan tim Pusat Penelitian Tuanan mengendalikan, mengisolasi dan memadamkan kebakaran," ujar CEO Yayasan BOSF Jamartin Sihite dalam rilisnya, Selasa (17/9).

Walaupun terbakar, kata Jamartin, tidak mengendurkan semangat pihaknya untuk terus melindungi orangutan di Kalimantan dan habitatnya.

Jamartin menambahkan tim dari Program Konservasi Mawas, Pusat Rehabilitasi Orangutan di Nyaru Menteng dan di Samboja Lestari terus melakukan patroli dan pengawasan ketat terhadap kemungkinan munculnya titik api di seluruh wilayah kerjanya sekaligus mencegah risiko kebakaran.

"Sampai saat ini kami belum melakukan penyelamatan atau evakuasi orangutan yang terancam kebakaran hutan dan lahan," tutur Jamartin.

Baca juga: Belasan Orangutan di Kalteng Terserang ISPA

Kondisi saat ini di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, api sempat mengancam pusat rehabilitasi yang terletak tidak jauh dari Kota Palangkaraya.

"Pekan pertama bulan Agustus lalu, tim pemadam kebakaran sempat berjibaku melawan api yang mendekat sampai jarak sekitar 300 meter dari batas Nyaru Menteng," ungkapnya.

Setelah 4 jam bekerja keras, tim berhasil memadamkan api bersama pihak-pihak terkait. Timnya bersama masyarakat dan unsur pemerintah terus melakukan patroli dan pemadaman, namun kegiatan pembukaan lahan dengan pembakaran terus terjadi. Hal ini mengakibatkan kabut asap tebal di Palangkaraya dan Indeks Standar Pencernaan Udara di Palangkaraya masuk dalam kategori berbahaya.

"Asap tebal ini tidak hanya membahayakan kondisi staf kami di Nyaru Menteng namun juga 355 orangutan yang kami rawat di pusat rehabilitasi itu juga di pulau pra-pelepasliaran disekitarnya," tuturnya.

Jamartin juga menceritakan saat ini sebanyak 37 orangutan muda ditengarai sudah terjangkit infeksi saluran pernapasan ringan dan tim medis pihaknya sigap melakukan pengobatan.(OL-5)

BERITA TERKAIT