18 September 2019, 10:05 WIB

Indonesia belum Berhasil Curi Peluang


Andhika Prasetyo | Ekonomi

MI/PIUS ERLANGGA
 MI/PIUS ERLANGGA
Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta

PEMERINTAH diharap tak cepat berpuas diri dengan surplusnya neraca perdagangan pada Agustus 2019.

Pasalnya, surplus sebesar US$0,085 miliar itu bukan akibat dari kinerja ekspor yang membaik dari bulan sebelumnya, tetapi lebih disebabkan impor Agustus 2019 yang turun jika dibandingkan dengan Juli 2019.

"Pemerintah tidak boleh lengah dengan data surplus yang terjadi pada Agustus ini karena masih ada pekerjaan rumah, yakni menutupi defisit yang sangat dalam sebesar US$2,28 miliar yang terjadi pada April 2019," kata Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta, kemarin.

Pemerintah, sambungnya, harus terus mewaspadai defisit neraca perdagangan di bulan-bulan berikutnya. Terlebih, kinerja ekspor hingga saat ini masih belum mampu menambal defisit sepanjang Januari hingga Agustus 2019.

Menurut Arif, kinerja neraca perdagangan dibebani impor nonmigas dari salah satu negara mitra dagang terbesar, Tiongkok. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor nonmigas Tiongkok pada Agustus 2019 sebesar US$3,74 miliar, sedangkan ekspor nonmigas Indonesia ke negara itu hanya sebesar US$2,27 miliar.

Kondisi itu meneruskan tren neraca perdagangan Tiongkok dengan Indonesia yang pada 2017 ke 2018 mengalami pelebaran defisit, dari US$14,16 miliar menjadi US$20,84 miliar.

Hal serupa juga terjadi di periode Januari-Juli 2019 jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, dengan defisit yang semakin dalam yakni sebesar 7,01%.

"Defisit perdagangan yang semakin melebar dengan Tiongkok sangat disayangkan karena harusnya Indonesia bisa memanfaatkan perang dagang yang terjadi antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Belum lagi secara penduduk, pasar Tiongkok lebih besar daripada Indonesia, yang seharusnya menjadi peluang pasar ekspor Indonesia," ujarnya.

Terganggu perang dagang

Di kesempatan berbeda, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, pada Juli 2019 ekspor produk minyak sawit sebesar 2,91 juta ton atau tumbuh 16% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya 2,52 juta ton.

Peningkatan pembelian terbesar itu dibukukan Bangladesh dengan kenaikan hingga 264%, diikuti India dengan lonjakan 77%.

"Seharusnya pertumbuhan ekspor bisa lebih besar, tetapi perang dagang yang terus terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok mengganggu pasar minyak nabati dunia," ujar Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono, kemarin.

Menurut Mukti, Indonesia tidak boleh terlalu menggantungkan diri kepada pasar global. Penggunaan dalam negeri, baik untuk keperluan pangan maupun biodiesel, tetap harus didorong agar serapan semakin besar.

"Indonesia perlu segera merumuskan mekanisme yang memungkinkan pengaturan stok ke pasar dunia," tandasnya. (*/E-2)

BERITA TERKAIT