18 September 2019, 08:10 WIB

Masalah Aramco tidak Ganggu Pasokan Minyak RI


Andhika Prasetyo | Ekonomi

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral meyakini serangan drone ke fasilitas minyak Saudi Aramco pada Sabtu (14/9) tidak akan mengganggu pasokan minyak mentah di dalam negeri.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Djoko Siswanto, mengungkapkan kapasitas produksi Aramco 13,6 juta barel per hari. Akibat serangan tersebut, produksi menyusut 5,7 juta barel menjadi 7,9 juta barel per hari. Adapun permintaan dari Tanah Air hanya 110 ribu barel per hari.

"Untuk sementara Aramco masih punya 7,9 juta barel per hari. Seharusnya tidak ada masalah karena ini juga sudah dituangkan dalam komitmen kerja sama," ujar Djoko di Jakarta, kemarin.

Lagi pula, lanjut Djoko, pengiriman untuk kebutuhan Indonesia tidak dilaksanakan setiap hari sehingga Aramco pasti sudah memiliki waktu untuk pemulihan.

Keyakinan bahwa peristiwa di Aramco tidak akan mengganggu pasokan di dalam negeri tidak terlepas dari upaya pemerintah yang telah melakukan antisipasi.

Djoko mengatakan pemerintah melalui Pertamina sudah menyepakati pembelian minyak mentah dari kontraktor yang beroperasi di dalam negeri, Exxon Mobil Cepu Ltd. Pertamina sepakat membeli minyak mentah dari Exxon Mobil sebanyak 650 ribu barel untuk periode September 2019.

"Kami akan upayakan untuk menjajaki pembelian minyak mentah dari kontraktor kontrak kerja sama lainnya," tandas Djoko.

Kekhawatiran akan adanya gangguan pasokan imbas serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi membuat harga minyak naik. Patokan internasional minyak mentah berjangka Brent naik US$7,06 per barel atau 11,7% dari penutupan New York pada Jumat (13/9) menjadi US$67,28 per barel. Harga tersebut melonjak lebih dari 19% ke level tertinggi sesi yakni US$71,95 per barel pada pembukaan.

Peluang terus naiknya harga minyak dunia juga membuat rupiah kemarin melemah 58 poin atau 0,41% menjadi 14.100 per dolar Amerika Serikat.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pemerintah terus mewaspadai kenaikan harga minyak dunia karena akan menambah ketidakpastian ekonomi global. Apalagi, Arab Saudi ialah eksportir minyak terbesar dunia.

Ia menambahkan bahwa asumsi harga minyak mentah Indonesia lebih rendah yakni US$63 per barel dalam postur sementara RAPBN 2020.

"Kalau koreksi sifatnya jangka pendek, mungkin masih akan bisa diserap," ujar Menkeu. (Pra/Mir/Ant/AFP/X-11)

BERITA TERKAIT