18 September 2019, 01:40 WIB

Deradikalisasi Agama lewat Tawa


Asep Salahudin Wakil rektor IAILM Suryalaya Tasikmalaya | Opini

Ilustrasi
 Ilustrasi
Opini

TERTAWA ialah ekspresi kebahagiaan. Agama fungsi profetiknya tidak lain mewujudkan umat yang berbahagia tidak hanya lahir tetapi juga batin. Di titik ini seharusnya agama dan tawa berjalan seiring, saling melengkapi dan mengisi. Minimal lewat panggilan azan Tuhan menyeru kita agar merayakan hidup dengan penuh kegembiraan (hayya 'alal falah). Charlie Chaplin juga yang bilang, "Hidup tanpa tawa ialah sia-sia".

Pada akhirnya manusia bukan hanya homo religiosus yang hidup habis untuk bekerja (homo faber), serius berpikir (homo sapiens) dan menafsir (homo simbolicum), melainkan juga satu hal yang tak boleh dilucuti sebagai khitah manusia adalah dimensi kejenakaan yang melekat dalam dirinya (homo ludens). Manusia yang bermain, tertawa, bercengkrama dengan lelucon dan mengakrabi humor.

Sayang dalam praktiknya tawa sering kali dibenturkan dengan agama dan segenap hal yang dipandang memiliki otoritas (kekuasaan). Hubungan tawa dan agama (kuasa) akhirnya menjadi berjauhan dan cenderung bermusuhan. Agama (dan kuasa) menjadi sebuah institusi yang dikondisikan bersifat angker, kedap kritik dan tertutup serta dijauhkan dari sesuatu yang dipandang bisa meruntuhkan wibawanya termasuk dalam hal ini ialah tawa.

 

Akar radikalisme

Radikalisme sesungguhnya berakar dari cara pandang terhadap agama yang tertutup seperti ini. Norma dianggap dogma yang tak boleh dipertanyakan ulang. Pancasila yang semula dinamis di tangan sebuah rezim otoriter seperti masa Orde Baru, menjadi ideologi tertutup dan hanya menyediakan ruang penafsiran tunggal yang dilakukan negara lewat BP-7. Di luar itu dianggap liar dan bidah. Warga (dan umat) wajib dicuci otaknya lewat cara indoktrinasi dan hanya menerima penafsiran yang sudah mereka kodifikasi.

Puritanisme sering kali bermula dari keinginan melakukan pemurnian (purifikasi) dari segenap paham yang sejak awal dipandang telah tercampur budaya lokal, takhayul dan khurafat dengan kembali pada 'teks resmi' masa kenabian. Ada zaman yang diyakini 'ideal' dan setiap kita diserukan kembali pada situasi arkais metafisika itu, kembali pada kepurbaan secara harfiah dan tekstual.

Tentu saja praktik keagamaan (dan kenegaraan) seperti ini tak pernah bisa santai, selalu melihat persoalan secara hitam putih, islam-kafir, salah-benar. Dunia dibelah dalam relasi dikotomik dan mereka yang tak sehaluan dianggap musuh yang harus selekasnya dilenyapkan. ISIS adalah contoh konkrit bagaimana atas nama nafsu menerapkan khilafah kemudian memaknai konsep jihad secara serampangan yang akibatnya ratusan ribu nyawa mati, peradaban luluh lantak, anak-anak kehilangan masa depan, dan malah tidak sedikit warga negara Indonesia yang terpikat fantasi politik dungu seperti itu harus terdampar sebagai pengungsi terlunta-lunta di tempat jauh dan nasibnya tak karuan.

Bagi saya islamisme dan setiap kecenderungan pemahaman agama (agama apa pun) selalu bergerak dengan pola seperti itu. Dalam titik tertentu perda syariah dan semangat menerapkan simbol masa lalu di ruang publik seperti pemisahan ruang berdasarkan jenis kelamin untuk hal-hal absurd, semisal tempat parkir dan gunung ialah ekspresi dari model keagamaan yang dicerabut dari dinamika kultural dan menunjukkan kebuntuan dalam cara memahami roh agama, atau dalam istilah Bung Karno, sebuah sikap yang hanya mementingkan abunya Islam dan melupakan 'apinya'.

Mereka lupa bahwa Allahu Akbar itu bukan isyarat untuk menebar ketakutan di jalanan sambil merusak fasilitas umum apalagi membunuh mereka yang tak sehaluan pemahaman dan keyakinan, melainkan kalimat takbir itu sejatinya mendesakkan keinsafan tentang kedaifan kita di hadapan Tuhan. Bahwa manusia tak lebih hanya setetes dari lautan ilmu dan kuasa-Nya.

Setiap Nabi membawa kitab suci yang isinya ialah kabar gembira (basyirah). Saya tak bisa membayangkan bagaimana seorang Musa, Isa atau Muhammad menyampaikan kabar gembira sementara dirinya sendiri tidak pernah tertawa. Kabar gembira hanya bisa disampaikan oleh pribadi-pribadi yang telah selesai dengan dirinya, menghayati hidup dengan riang, mencintai manusia tanpa melihat asal-usul identitasnya bahkan tidak marah ketika dihardik musuhnya, tersenyum sambil memberikan pipi kiri manakala ditamar pipi kanannya. Bukankah seorang Kanjeng Nabi SAW yang mengatakan, "Menampakkan senyuman kepada saudara kalian ialah sedekah".

 

Melawan lewat humor

Maka humor sesungguhnya bisa kembali dijadikan ajang perlawanan kepada setiap kecenderungan orang yang sok serius dalam melihat banyak hal agar setiap kita kembali bisa merayakan hidup dengan gembira, menjalani cara bernegara tanpa harus tegang. Humor bisa menjadi ventilasi yang memungkinkan kita dengan jujur bisa menertawaan lingkungan dan lebih jauh lagi menertawakan diri sendiri dengan segenap kekurangan dan ambiguitasnya. Humor menjadi rongga antara (in-between space) agar kehidupan tak jatuh pada kutub ekstrem, bahwa sikap pendakuan pada kebenaran sepenuhnya tak pernah solid selalu ada celah orang kemudian memanfaatkannya untuk banyak kepentingan.

Humor menjadi instrumen untuk mencurigai bahwa setiap kekuasaan dan penguasaan baik dalam bidang keagamaan, politik, sosial dan budaya selalu potensial disalahgunakan. Lewat lelucon segenap ironi inkonsistensi dan kemunafikan itu ditertawakan agar pada gilirannya setiap kita sadar dan pada akhirnya menginsafi kekeliruan yang diperbuat tanpa harus menyalahkan orang lain.

Efektivitas perlawanan humor sudah terbukti dalam sejarah. Bagaimana humor dengan sempurna memperolok kekuasaan yang pada akhirnya menjadi awal kejatuhan sebuah rezim. Tentu humor bukan satu-satunya faktor tapi minimal humor punya kemampuan tajam mengidentifikasi dan mengendus masalah krusial yang sedang menimpa masyarakat yang tak bisa dibahasakan secara ilmiah oleh kaum akamedis yang sering tampil sok ilmiah dan tidak juga mampu disuarakan kawanan politisi yang kenyataannya kerap menyuarakan keresahan khalayak itu untuk kepentingan partisan.

Ketika Soeharto sangat berkuasa ada banyak buku yang menertawakan kekuasaan itu dengan humor yang jernih. Prisma nomor 1 (Januari 1996) mengangkat tema, 'Kartun dan Panplet Politik' merekam jejak perlawanan lewat humor itu. Dananjaya merekam masa reformasi yang juga tak kalah lucunya, 'Humor & Rumor Politik Masa Reformasi' (1999) atau dua kitab lainnya yang mendokumentasikan humor di negara lain, semisal 'Mati Ketawa Cara Rusia' (1986) atau Tri Agus S Siswowiharjo yang menulis, 'Mati Ketawa Cara Timur Leste' (2002).

Berikut ialah humor yang dengan berani mengolok-olok penguasa represif. Seorang petani pernah bertanya kepada Stalin, "Kamerad Stalin, kentang kita begitu banyak diproduksi, sehingga kalau disusun satu-satu di atas yang lain bisa naik terus di hadapan Allah." Kata Stalin, "Tapi Allah tidak ada!" Jawab petani, "Oh iya...kentang juga tidak ada!" Marcos dan Imelda ketika berada di sebuah pesawat pribadinya bertanya kepada pembantu di sampingnya, "Rakyat saya akan senang kalau saya tebar uang dari udara." Dengan spontan dijawab, "Lebih senang lagi kalau uang itu ditemani Bapak dan Ibu dari udara!"

Di zaman Orde Baru saya kira kita tidak bisa melepaskan sosok Gus Dur yang tak pernah henti menembakkan senjatanya kepada penguasa lewat senarai humor-humornya yang jernih. Saya kira kecakapan humor juga yang menjadi modal kultural seorang Gus Dur dapat meraih tahta tertinggi sebagai Presiden Keempat. Katanya, pernah seorang pejabat berpidato saat kampanye Golkar, "Saudara-saudara siapa yang membangun jalan dan jembatan?" "Golkaaar," jawab massa. "Siapa yang membangun sekolah dan pasar?" tanya pejabat lagi. "Golkaar," jawab massa. "Begitu kok dibilang korupsi. Siapa yang korupsi?" Lagi lagi massa serempak menjawab, "Golkaaar".

Di tengah situasi berbangsa yang sering kali bersengketa karena urusan politik dan pemahaman agama yang berbeda, maka tak ada solusinya kecuali ramai-ramai kembali pada tawa. Karena tawa dalam banyak penelitian bisa mengurangi beban batin, terapi kesengsaraan, dan dapat membuat usia hidup kita panjang. Kata Volker Faust, "Barangsiapa yang tertawa, maka hidupnya akan lama."

BERITA TERKAIT