17 September 2019, 17:30 WIB

Wakili Indonesia, Kucumbu Tubuh Indahku Melaju ke Seleksi Oscar


fathurrozak | Weekend

Dok. Fourcolours Film
 Dok. Fourcolours Film
Film Kucumbu Tubuh Indahku mewakili Indonesia untuk bersaing di ajang Piala Oscar.

Film arahan sutradara Garin Nugroho, Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body), terpilih untuk mewakili Indonesia dalam Oscar ke-92 tahun depan.

Ada tiga kandidat film, sebelum akhirnya film yang terinspirasi dari kisah penari lengger Rianto itu yang maju terpilih. Film 27 Steps of May karya Ravi Bharwani, dan Ave Maryam milik Ertanto Robby Soediskam.

Ketiga film tersebut juga sukses dan malang melintang di festival internasional. Kucumbu Tubuh Indahku yang dibintangi aktor pendatang baru Mohammad Khan, menggondol Orizzonti Award di Festival Film Venesia 2018. Dalam kategori Orizzonti, festival akan menyeleksi 19 film panjang dan 13 film pendek yang merepresentasikan tren estetika dan ekspresi terkini dari berbagai negara. Untuk masuk kategori ini, film juga harus belum pernah diputar secara internasional.

Sementara itu, 27 Steps of May yang dibintangi Raihaanun, memboyong dua piala di Malaysia International Film Festival untuk kategori New Hope Award dan Best Actor. 27 Steps of May juga meraih Golden Hanoman di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2018. Adapun Ave Maryam tayang di Festival Film Internasional Hanoi dan Festival Film Asia Hong Kong tahun lalu.

Di ajang Oscar nanti,  Kucumbu Tubuh Indahku akan bersaing di International Feature Film Award, atau juga disebut Best Foreign Languange. Tahun ini, pemenang kategori ini ialah film Roma asal Meksiko, yang disutradarai Alfonso Cuaron, yang juga menggondol kategori film terbaik.

International Feature Film Award ialah film kiriman negara asal untuk bersaing di Oscar. Sehingga, film yang berlaga di kategori tersebut dianggap sebagai perwakilan negara pengirim.

"Keputusan mengejutkan dan berani dengan memilih tema sensitif, menunjukkan juri memberi penghormatan pada nilai-nilai cultural diversity, yakni hak manusia dalam keberagaman hidup damai tanpa kekerasan dan diskriminasi," ungkap Garin terkait pemilihan filmnya sebagai wakil Indonesia di seleksi Oscar 2020, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Selasa, (17/9).

Pemilihan film untuk mewakili Indonesia di ajang Oscar 2020 dilakukan Komite Oscar atau The Indonesian Academy Awards Selection Committee.
Para anggota komite tersebut ialah Benny Benke, Christine Hakim, Sheila Timothy, Firman Bintang, Adisurya Abdy, Lola Amaria, Mathias Muchus, Roy Lolang, Alim Sudio, Fauzan Zidni, Benny Setiawan, Reza Rahadian, dan Thoersi Argeswara.

Pada Oscar 2019, Indonesia mengirim Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak untuk maju ke Best Foreign Languange, namun Marlina gagal masuk dalam daftar nominasi yang dipilih dewan juri.

Tolak boikot

Dua hari sebelumnya, Minggu, (15/9) ketika film Kucumbu Tubuh Indahku diputar di Festival Kota Lama Semarang, sempat terjadi insiden saat ormas Front Pembela Islam (FPI) menggeruduk lokasi pemutaran dan memaksa untuk digagalkannya pemutaran. Sutradara Garin Nugroho pun menolak pemboikotan film Kucumbu Tubuh Indahku.

 "Film ini sudah lolos sensor, anggota dewan sensor merupakan perwakilan dari unsur-unsur masyarakat, terutama perwakilan dari institusi keagamaan. Lembaga Sensor Film telah melakukan diskusi dan pertimbangan untuk meloloskan sensor film ini. Festival Kota Lama Semarang adalah festival yang didukung oleh pemerintah Kota Semarang dan izin acara sudah diberikan oleh Kepolisian setempat, maka tindakan membubarkan secara sepihak ini merupakan tindakan yang tidak menghormati prosedur hukum," tegas Garin dalam rilis yang diterima Media Indonesia pada Senin, (16/9).

 Meski sempat terjadi insiden tersebut, film berhasil diputar hingga diskusi, setelah sebelumnya mediasi antara ormas, Garin, dan produser festival, dan mendapat pengamanan dari aparat kepolisian.

Kucumbu Tubuh Indahku memang mengundang respons cukup keras dari beberapa kalangan publik sejak pemutaran perdananya secara massal di bioskop komersial. Ini disebabkan dalam plot ceritanya mengangkat kisah karakter yang memiliki spektrum gender non biner. (M-2)

BERITA TERKAIT